Saatnya Move On dari Fiqih Sektarian di Tengah Perbedaan Hari Raya
وَقَوْلُهُ: وَلَا بُعْدَ فِيهِ إلَخْ فِيهِ وَقْفَةٌ ظَاهِرَةٌ فَإِنَّهُمْ صَرَّحُوا بِأَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِلْإِمَامِ أَنْ يَدْعُوَ النَّاسَ إلَى مَذْهَبِهِ وَأَنْ يَتَعَرَّضَ بِأَوْقَاتِ صَلَوَاتِ النَّاسِ وَبِأَنَّهُ إنَّمَا يَجِبُ امْتِثَالُ أَمْرِ الْإِمَامِ بَاطِنًا إذَا أَمَرَ بِمُسْتَحَبٍّ أَوْ مُبَاحٍ فِيهِ مَصْلَحَةٌ عَامَّةٌ فَكَيْفَ يَجِبُ بَاطِنًا امْتِثَالُ أَمْرِهِ بِتَقْدِيمِ الْجُمُعَةِ عَلَى وَقْتِ الظُّهْرِ أَوْ تَأْخِيرُهَا عَنْهُ الْحَرَامُ
Artinya, “Ucapan Sayyid Umar Al-Bashri, dan tafsir ini sama sekali tidak jauh dari kebenaran dan seterusnya, ini adalah kejanggalan yang jelas, karena ulama menegaskan bahwa imam tidak boleh mengajak paksa masyarakat mengikuti mazhabnya dan tidak boleh mengintervensi waktu shalat mereka. Kewajiban mematuhi imam hanya dalam perintah melakukan perkara sunah atau perkara mubah yang mengandung maslahat umum. Bagaimana mungkin wajib mengikuti perintah imam secara batin dengan mendahulukan Jumat atas waktu zuhur atau mengakhirkannya dari waktu zhuhur yang hukumnya haram?”
وَقَوْلُهُ: لِمَا سَيَأْتِي أَنَّ حُكْمَ الْحَاكِمِ يَرْفَعُ الْخِلَافَ إلَخْ ظَاهِرُ الْمَنْعِ فَإِنَّ الْحُكْمَ الشَّرْعِيَّ مُعْتَبَرٌ فِي حَقِيقَتِهِ تَعَلُّقُهِ بِمُعَيَّنٍ وَمَا هُنَا لَيْسَ كَذَلِكَ بِخِلَافِ مَا يَأْتِي فِي النِّكَاحِ وَعَلَى فَرْضِ كَوْنِهِ حُكْمًا فَهُوَ حُكْمٌ فَاسِدٌ مُوجِبٌ لِلْمُحَرَّمِ لَا يَنْفُذُ بَاطِنًا فَتَعَيَّنَ حَمْلُ كَلَامِ الشَّارِحِ عَلَى ظَاهِرِهِ مِنْ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْمُبَادَرَةِ فِعْلُ الْجُمُعَةِ فِي أَوَّلِ وَقْتِ الظُّهْرِ وَبِعَدَمِهَا فِعْلُهَا فِي آخِرِهِ كَمَا هُوَ ظَاهِرُ صَنِيعِ النِّهَايَةِ وَسَمِّ وَصَرِيحُ اقْتِصَارِ ع ش عَلَى هَذَا الْمُرَادِ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ
“Ucapan Syekh Sayyid Al-Bashri, hal ini karena keterangan yang akan datang bahwa keputusan hakim menghilangkan ikhtilaf dan seterusnya. Ucapan ini jelas tertolak, sebab hukum syariat dalam kaidah tersebut berkaitan dengan perkara tertentu, sementara persoalan ini bukan demikian. Berbeda dengan kasus dalam Bab Nikah. Andaipun disebut hukum, maka disebut hukum yang rusak, menetapkan keharaman yang berkonsekuensi tidak wajib ditaati secara batin. Karenanya, ucapan Imam Ibnu Hajar hanya bisa diarahkan sesuai makna lahirnya, yaitu bergegas Jumatan adalah melakukannya di awal waktu, dan maksud tidak bergegas adalah melakukannya di akhir waktu seperti ucapan lahirahnya redaksi kitab An-Nihayah. Syekh Ibnu Qasim dan Syekh Ali Syibramalisi meringkas hanya dalam penafsiran demikian. Wallahu a’lam.” (Abdul Hamid As-Syirwani, Hasyiyah As-Syarwani, juz II, halaman 419).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!