Rupiah Menjauh dari Rp18.000, BI Mulai Ubah Strategi
Namun, penguatan rupiah pada Agustus belum berarti risiko telah hilang. Nilai tukar masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, kebijakan bank sentral global, pergerakan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta arah arus modal asing.
Data resmi BI menunjukkan JISDOR pada 28 Agustus berada di Rp17.703 per dolar AS. Karena 30 Agustus 2026 jatuh pada Minggu, tidak terdapat penetapan JISDOR pada hari tersebut. Oleh sebab itu, posisi 28 Agustus merupakan titik perdagangan resmi BI terakhir sebelum akhir pekan.
Inilah yang membuat periode satu bulan tersebut menarik. Rupiah belum sepenuhnya keluar dari tekanan struktural, tetapi telah menunjukkan kemampuan untuk bangkit dari area Rp18.000. BI pun memasuki September dengan kombinasi kebijakan stabilisasi nilai tukar, instrumen lindung nilai, pengelolaan likuiditas, serta perubahan KLM.
Pertanyaannya sekarang bukan hanya apakah rupiah mampu bertahan di bawah Rp18.000. Tantangan berikutnya adalah apakah penguatan tersebut dapat berlanjut ketika tekanan eksternal kembali meningkat.
Jika arus modal asing tetap masuk, cadangan devisa tetap kuat, kebijakan BI kredibel, dan likuiditas domestik semakin efisien, ruang bagi rupiah untuk mempertahankan penguatan masih terbuka. Namun, apabila dolar kembali menguat secara global atau terjadi pembalikan arus modal, rupiah tetap berisiko kembali menguji level Rp18.000.
Dengan kata lain, perjalanan rupiah dari Rp18.080 pada 30 Juli menuju sekitar Rp17.703 pada 28 Agustus bukan sekadar cerita tentang angka kurs. Pergerakan tersebut mencerminkan pertarungan antara tekanan dolar global dan upaya Bank Indonesia mempertahankan daya tahan rupiah melalui kombinasi kebijakan moneter, intervensi pasar, pengelolaan likuiditas, serta upaya menarik modal asing.
Memasuki September, efektivitas strategi tersebut akan kembali diuji. Perubahan KLM mulai 1 September menjadi salah satu bagian dari strategi yang lebih besar: memastikan likuiditas perbankan tidak mengendap, pasar uang semakin dalam, pembiayaan produktif meningkat, dan pada akhirnya stabilitas ekonomi serta nilai tukar rupiah tetap terjaga.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!