Rupiah Menjauh dari Rp18.000, BI Mulai Ubah Strategi

ED
PN
Minggu, 30 Agustus 2026 | 10:19 WIB
Bagikan
Rupiah Menjauh dari Rp18.000, BI Mulai Ubah Strategi

Langkah tersebut penting karena aliran modal asing memiliki pengaruh terhadap permintaan dan penawaran valuta asing. Ketika investasi portofolio asing masuk ke pasar keuangan Indonesia, kebutuhan terhadap rupiah dapat meningkat. Sebaliknya, ketika terjadi arus keluar modal, tekanan terhadap rupiah dapat membesar.

Data BI menunjukkan investasi portofolio asing pada triwulan II 2026 mencatat net inflows sebesar US$8,5 miliar, terutama melalui Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Aliran tersebut berlanjut memasuki triwulan III seiring meningkatnya imbal hasil instrumen keuangan domestik. 

Faktor lain yang menjadi bantalan rupiah adalah cadangan devisa. BI mencatat cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 mencapai US$145,344 miliar. Posisi tersebut memberikan ruang bagi bank sentral untuk menjaga stabilitas pasar ketika tekanan eksternal meningkat. 

Menariknya, pergerakan rupiah selama Agustus juga berlangsung bersamaan dengan perubahan kebijakan makroprudensial BI yang akan mulai berlaku 1 September 2026. Salah satu kebijakan tersebut adalah penyempurnaan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial atau KLM.

Mulai 1 September, total maksimum KLM ditingkatkan dari 5,5 persen menjadi 6 persen dari dana pihak ketiga (DPK). Namun, alokasinya diubah. Insentif untuk pembiayaan sektor prioritas ditetapkan maksimal 4 persen dari DPK, sedangkan maksimal 2 persen diberikan melalui KLM Pendalaman Pasar Uang atau PPU. 

Perubahan tersebut mempunyai hubungan tidak langsung dengan stabilitas rupiah. BI ingin memastikan likuiditas perbankan tidak hanya berhenti pada penempatan surat berharga, tetapi juga bergerak melalui pasar uang dan masuk ke sektor produktif.

Dalam skema baru tersebut, bank yang mempunyai portofolio surat berharga terlalu besar tidak otomatis mendapatkan tambahan insentif. BI mempertimbangkan struktur portofolio masing-masing bank agar likuiditas dapat terdistribusi lebih baik.

Logikanya cukup jelas. Jika sebagian bank memiliki kelebihan likuiditas dan surat berharga, sementara bank lain membutuhkan likuiditas, pasar uang diharapkan menjadi saluran redistribusi. BI berharap mekanisme repo dan pendalaman pasar uang dapat membuat likuiditas bergerak lebih efisien antarbank.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.