VISI.NEWS | JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa (5/5), tertekan oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz.
Rupiah tercatat turun 30 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp17.424 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.394 per dolar AS.
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu oleh memanasnya situasi di jalur pelayaran strategis tersebut. Menurut dia, pasar merespons negatif eskalasi militer yang terjadi antara kedua negara.
“Sentimen pasar tetap rapuh setelah pertukaran militer yang kembali terjadi pada Senin (4/5/2026), ketika pasukan AS dan Iran melancarkan serangan baru di Teluk karena kedua pihak berupaya untuk menegaskan kendali atas jalur air strategis tersebut,” ucapnya dalam keterangan dikutip, Selasa (5/5/2026).
Berdasarkan laporan media Sputnik, pasukan bersenjata AS dilaporkan menembaki dua kapal sipil yang mengangkut barang dari Khasab, Oman, menuju Iran, yang mengakibatkan lima orang tewas.
Sementara itu, United States Central Command menyatakan bahwa Iran lebih dulu menembaki kapal perang dan kapal komersial milik AS, sehingga pihaknya melakukan serangan balasan dengan menghancurkan sejumlah kapal kecil milik Iran.
Namun, versi berbeda disampaikan oleh stasiun televisi pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting. Mengutip sumber militer senior, Iran disebut hanya berupaya mencegah kapal AS melintas dengan menembakkan dua rudal ke arah satu kapal perang, bukan memulai serangan.
Ibrahim menambahkan, eskalasi konflik tersebut berpotensi mengganggu stabilitas pasar global, terutama terkait pasokan energi.