Rindu yang Menjadi Perjalanan
VISI.NEWS - DARI sebuah unggahan sederhana di grup WhatsApp, lahir sebuah pertemuan yang menghangatkan hati. Bukan sekadar acara gowes, melainkan perjalanan untuk merawat persahabatan yang selama ini dipisahkan kesibukan dan waktu.
Selasa sore itu berjalan seperti hari-hari biasa. Setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan, banyak orang memilih beristirahat sambil menatap layar ponsel. Ada yang menelusuri YouTube, Instagram, TikTok, Facebook, atau sekadar membaca percakapan di grup WhatsApp.
Begitu pula dengan pria yang kini lebih senang menyebut dirinya mantan wiraswasta yang beralih profesi menjadi "PNS"—singkatan dari Pekerjaan Naik Sepeda.
Di sela waktu santainya, sebuah notifikasi dari Grup WhatsApp Kerabat Gowes menarik perhatiannya. Sebuah foto baru saja diunggah. Foto itu menampilkan momen pembagian jersey Kerabat Gowes edisi kedua yang kebetulan dilaksanakan di rumahnya beberapa waktu lalu.
Dalam foto tersebut, para anggota komunitas berdiri berjajar rapi mengenakan jersey kebanggaan mereka. Senyum mengembang di wajah masing-masing. Di bawah foto itu tertulis kalimat sederhana namun menyentuh:
"Rindu kumpul bareng."
Kalimat pendek itu ternyata menjadi pemantik.
Satu per satu anggota grup mulai berkomentar.
"Kapan ya kita bisa kumpul lagi?"
"Sudah lama tidak gowes bareng."
"Kangen suasana seperti ini."
Semakin lama, semakin banyak yang menyuarakan kerinduan yang sama. Di balik obrolan ringan itu tersimpan kenyataan bahwa kesibukan pekerjaan, urusan keluarga, dan berbagai aktivitas lain telah membuat mereka jarang bertemu.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya percakapan biasa. Namun bagi komunitas yang dibangun oleh persahabatan dan hobi yang sama, kerinduan seperti itu tidak bisa dibiarkan terlalu lama.
Dari situlah semuanya bermula.
Mencari Tempat yang Tepat
Ide pertama yang muncul cukup sederhana: mengadakan kumpul-kumpul kecil.
Dalam percakapan grup, salah seorang anggota senior, H. Edi, memberikan usulan yang langsung mendapat perhatian.
"Bagaimana kalau masing-masing bawa nasi bungkus sendiri, lalu kita cari tempat yang syahdu untuk makan bersama?"
Ide itu dianggap masuk akal. Selain praktis, tidak akan merepotkan tuan rumah yang menjadi penyelenggara.
Percakapan terus bergulir. Hingga kemudian Mang Onay muncul dengan usulan yang lebih konkret.
"Kalau di Cicalengka bagaimana? Di tempat Bu Tini."
Tak hanya menyebut lokasi, ia juga mengunggah video suasana tempat tersebut.
Begitu video diputar, banyak anggota langsung tertarik.
Lokasinya berada di lereng perbukitan yang sejuk. Jauh dari hiruk-pikuk permukiman padat. Di sana terdapat ruang makan terbuka, mushala, toilet dan kamar mandi yang memadai.
Ada pula area berkumpul di lantai atas, sementara di bagian bawah terbentang ruang terbuka yang langsung menghadap hamparan kebun jagung. Pemandangan hijau dan udara segar menjadi kombinasi yang sulit ditolak.
Tempat itu terasa seperti dirancang khusus untuk sebuah reuni kecil para pesepeda.
Tanpa menunggu lama, usulan tersebut dibawa kepada ketua komunitas. Setelah berdiskusi, semua sepakat bahwa lokasi itu sangat ideal.
Awalnya sempat muncul tanggal 5 Juli 2026 sebagai pilihan. Namun waktu persiapan dianggap terlalu singkat untuk mengumpulkan peserta.
Akhirnya diputuskan satu tanggal yang dinilai paling memungkinkan.
12 Juli 2026
Tanggal itu kemudian diumumkan melalui grup.
Responsnya menggembirakan.
Dari Grup WhatsApp ke Dunia Nyata
Daftar peserta mulai terisi.
Satu nama masuk.
Lalu dua.
Lima.
Sepuluh.
Hingga akhirnya mencapai sekitar dua puluh anggota Kerabat Gowes. Ditambah enam peserta dari komunitas sahabat yang ikut bergabung.
Yang menarik, biaya kegiatan sangat terjangkau.
Hanya Rp25.000 per orang untuk konsumsi satu kali makan.
Tidak ada sponsor besar. Tidak ada kemewahan. Hanya semangat kebersamaan yang menjadi modal utama.
Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat kegiatan ini terasa istimewa.
Mereka datang bukan untuk mencari fasilitas mewah.
Mereka datang untuk bertemu teman-teman lama.
Mengayuh Menuju Kerinduan
Minggu pagi, 12 Juli 2026.
Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WIB ketika beberapa peserta dari kawasan Kurdi dan Cimahi mulai berkumpul di Gang Haji Kurdi 6.
Di sanalah sang penggagas acara tinggal.
Satu per satu pesepeda berdatangan. Suasana pagi masih segar. Candaan ringan mulai terdengar.
Tak lama kemudian rombongan bergerak menuju titik kumpul utama di sekitar Bundaran Cibiru, tepatnya di samping Pool Bus Budiman.
Mereka tiba sekitar pukul 07.45 WIB.
Ternyata tiga anggota sudah lebih dahulu hadir.
Sambil menunggu peserta lain, sebagian menikmati secangkir kopi hangat dari kios kecil di sekitar lokasi. Ada pula yang memilih menghabiskan sebatang rokok sambil berbincang santai.
Namun kabar yang datang kemudian membuat jumlah peserta sedikit berkurang. Tiga anggota terpaksa membatalkan kehadiran karena alasan masing-masing.
Meski demikian, semangat yang sudah terbangun tidak surut.
Sebelum berangkat, dilakukan pembagian tugas sebagaimana lazimnya dalam kegiatan bersepeda jarak menengah.
Sebagai Road Captain, sang penggagas bertanggung jawab mengatur ritme perjalanan.
Brehme bertugas sebagai Marshal yang menjaga keamanan dan keteraturan rombongan.
Sementara Ox berada di posisi Sweeper, memastikan tidak ada peserta yang tertinggal di belakang.
Setelah semua siap, kayuhan pertama pun dimulai.
Menaklukkan Tanjakan Bersama
Cuaca pagi itu bersahabat.
Langit cerah.
Lalu lintas tidak terlalu padat.
Kondisi ideal bagi sebuah perjalanan bersepeda menuju kawasan perbukitan Cicalengka.
Sekitar 45 menit perjalanan, rombongan berhenti di kawasan Parakanmuncang untuk melakukan hydration break.
Semua menepi.
Botol minum dibuka.
Beberapa peserta meregangkan otot kaki dan punggung.
Mereka tahu, tantangan sebenarnya baru akan dimulai.
Lima menit kemudian perjalanan dilanjutkan.
Awal tanjakan masih terasa ramah. Namun sekitar 500 meter berikutnya, elevasi mulai meningkat secara signifikan.
Jalanan menanjak panjang dengan kontur naik-turun yang menguras tenaga.
Bagi pesepeda yang rutin berlatih, medan itu masih bisa dinikmati.
Namun bagi mereka yang jarang bersepeda karena kesibukan pekerjaan, tanjakan tersebut menjadi ujian yang cukup berat.
Dua peserta terlihat mulai kesulitan menjaga ritme kayuhan.
Napas memburu.
Kecepatan menurun.
Tetapi di sinilah makna sebuah komunitas terlihat.
Tidak ada yang ditinggalkan.
Tidak ada yang diejek karena tertinggal.
Sebaliknya, para anggota lain bergantian memberi semangat.
Ada yang menemani dari samping.
Ada yang membantu mendorong.
Ada yang sekadar memberi motivasi agar tetap bergerak.
Di jalan menanjak itu, yang diuji bukan hanya kekuatan kaki, tetapi juga kekuatan persaudaraan.
Dan mereka berhasil melewatinya.
Sedikit demi sedikit, meter demi meter, tanjakan panjang itu akhirnya berhasil ditaklukkan.
Saat lokasi tujuan mulai terlihat di kejauhan, kelelahan yang sempat terasa seakan menghilang.
Yang tersisa hanyalah rasa lega, kebanggaan, dan kebahagiaan karena berhasil tiba bersama-sama.
Semua berawal dari sebuah foto di grup WhatsApp.
Sebuah unggahan sederhana yang memunculkan kerinduan.
Kerinduan yang kemudian berubah menjadi niat.
Niat yang menjelma menjadi perjalanan.
Dan perjalanan itu akhirnya menghadirkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar olahraga: kebersamaan yang kembali terajut.
Benarlah, kadang-kadang sebuah postingan tidak hanya menghadirkan kenangan.
Ia juga bisa membawa berkah.
@untung sumarsono
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!