REFLEKSI | Tak Mau Berniat
Ahli debat dari pihak yang so faham berkata, "Allah sudah pasti tahu, kalaupun tak ada niat yang diucapkan terlebih dahulu!"
Yoo kita cari perumpamaan, permisalannya...
Misalkan dalam sebuah ibadah, secara ujug ujug sebuah ritual dilakukan...ia berpikir itu sah! Pasti diterima ibadahnya, tanpa terhalang ! Pasti diterima ibadahnya, tanpa terbantah !
Ah masa ia bisa semudah itu ? Apa benar ?
Itulah racun pemahaman yang picik ! Itulah kekeblingeran yang sangat nyata dari diri kita.
Coba buka lagi kitab suci kita ! Yang beribadah benar saja dalam wujud fisiknya orang beribadah, dikata Allah mereka orang yang disebutkan lalai ! Lalai ? Ya lupa. Tak ingat. Tak paham. Ada ketidakpahaman, tak pintar memahami maksud. Ada sesuatu yang salah, dan kesalahannya di ulang-ulang, dan kita tak berinisiatif untuk intropeksi diri, atau mencari tahu, kadar perbuatan yang kita lakukan itu, apa sudah benar, ataukah masih belum benar.
Karena pernyataan merasa sudah beriman saja, oleh Tuhannya itu di sangsikan. Perhatikan surat Al Baqarah ayat 8 silahkan buka.
Dan diantara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan hari akhir,” padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!