REFLEKSI | Menolong Malah Kepentung
Hidupnya kembali bagaikan raja! Kepercayaan dirinya kini telah melampaui langit ke tujuh, karena saking merasa jumawanya. Dia telah menemukan rasa hormat dari orang-orang yang ia cari. Maka jadilah ia sosok gila hormat, yang memposisikan orang lain lebih rendah statusnya dibanding dirinya.
Sehingga hal yang sama, ia terapkan pada siapapun, begitu juga, dengan orang yang telah berjasa menolongnya, sekarang harus tunduk, dan harus menghormatinya. Bila dulu ia cium tangan, gantian posisinya... sekarang tangan ia yang harus orang itu cium.
Ia lupa pada kita, teman yang sudah menyokongnya dengan materi, support dan doa, yang kemarin-kemarin ia anggap sebagai malaikat penolong, manusia setengah dewa, yang mampu memberinya nafas, dan menunjukan, arah, masih ada cahaya yang bisa ia songsong dimasa depan. Sekarang ia telah menjadi sombong, angkuh, dan so berkuasa. Takdirnya telah membuka karakter yang sebenarnya.
Itulah realita, kadang bagi yang suka menolong, kepahitan macam ini adalah menjadi ujian pula bagi kita. Maka jadilah kita, sang penolong yang gantian di uji Tuhan.
Asik memang langkah Tuhan bermain dengan cara menguji diri kita !
Satu sisi orang yang dibantu kita, Allah uji dengan tertutupnya kembali mata hatinya, lalu Allah pun menguji kita sang penolong itu, dengan bentuk ujian ke ikhlasan, ujian kesabaran, dan kesadaran.
Semoga kita selalu ikhlas menjalankan peran kita dalam kehidupan sebagai penebar kebaikan. Apapun amal baik kita, lupakan! Allah mencatat itu, ia tak lupa apa yang kita lakukan. Jadilah manusia ikhlas. Manusia yang tak harus kecewa ketika ia dikecewakan! Manusia yang bisa terus memberi senyuman, walau ada kepahitan. Semoga kita bisa menjadi manusia seperti ini.
Semoga kita mampu menjadi manusia utama, manusia sempurna yang Allah sukai. Amiinn.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!