REFLEKSI | Menolong Malah Kepentung
Menolong adalah dorongan nurani, pertimbangan akal sehat kadang terlampaui ketika, "Nurani" sudah lebih dahulu bicara. Sehingga ia tak akan melihat siapa orang yang ditolongnya, tak melihat latar belakang, track record masa lalunya, mengapa ia sampai terpuruk, jatuh kedasar, atau masa lalu yang menyebabkan si orang tersebut di hukum Tuhan.
Manusia lain adalah jalan wasilah," Penolong" jalan yang bisa membantu mereka yang sedang terpuruk bisa terangkat bangkit, dan maju kembali. Bersyukurlah kita bila memiliki teman seperti ini. Di saat yang lain mencampakan, menjauhi, dan tak mempedulikan. Ada malaikat berwujud manusia meraih tangan kita.
Lalu apa yang kau rasa ?
Pastinya tentu kita, "Yang terpuruk itu," bersyukur ! Yakin, dalam hatinya ia sangat berterima kasih pada Tuhan nya, juga pada si orang yang telah membantunya.
Untuk sesaat, dia sangat gandrung, dekat, dan lengket pada kita. dalam situasi seperti ini, kita sudah bagaikan saudara, bukan istilahnya teman lagi. Atau bisa jadi sosok kita adalah dewa penolong baginya, bahkan mungkin, malaikat baik yang membawa keberuntungan untuknya.
Lalu Tuhan mencoba lagi, menguji ketulusan dari jalinan rasa, yang sudah terbangun tersebut, dengan memberinya sebuah keberuntungan, baik itu, ia mendapat kemudahan rezeki, dengan terbukanya pintu keberlimpahan, atau diberi wewenang amanah memegang sebuah jabatan, sehingga statusnya terkatrol akibat jabatan yang ia emban. Di sini Allah, Tuhan, menguji dirinya !
Apakah ia sadar ia tengah diuji ? Apakah ia faham keberlimpahan, status baiknya, dan kedudukan yang kini ia emban, itu sebagai sebuah titipan, yang berbatas waktu, dan itu tak akan lama ia miliki !
Maka Tuhanpun mendatangkan padanya, orang-orang dahulu yang pernah hilang. Lalu berdatanganlah, mereka yang sebelumnya meninggalkan dirinya saat ia terpuruk, menyemut...bagaikan semut menemukan gula.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!