REFLEKSI | Menolong Malah Kepentung

ED
Sabtu, 26 Februari 2022 | 05:19 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Menolong Malah Kepentung

Oleh Bambang Melga Suprayogi

INI adalah sebuah ilustrasi, fenomena kehidupan yang harus kita jadikan pembelajaran...manusia dengan karakter nya, manusia dengan sifat aslinya.

Dan itu akan terlihat, manakala Allah memberi Ujian kepada semuanya, siapakah kita di mata sang maha pencipta sesungguhnya. Mari kita simak...

Rasa belas kasih kita sebagai manusia dalam menolong orang kadang muncul, atas dasar empati, dan niat baik kita yang tulus, membantu orang lain, untuk keluar dari permasalahan pelik yang ia hadapi.

Lantas apa yang harus kita perbuat  ?

Yaa, kita menolongnya dengan membantunya memberi materi. Mensupportnya dengan terus menyemangatinya. Atau mengajaknya bangkit dari keterpurukan, yang telah membuat ia jatuh ke dasar kepahitan hidup yang membelenggunya selama ini.

Kita, "si penolong itu," membantu atas dasar pertemanan, atau persaudaraan, lebihnya lagi adanya unsur kemanusiaan yang kita lihat.

Saling tolong-menolong itu adalah anjuran dari semua agama apapun. Perbuatan baik yang sangat mulia, dan hanya bisa terjadi, dari seseorang yang memang terketuk hatinya untuk bisa membantu.

Menolong adalah dorongan nurani, pertimbangan akal sehat kadang terlampaui ketika, "Nurani" sudah lebih dahulu bicara. Sehingga ia tak akan melihat siapa orang yang ditolongnya, tak melihat latar belakang, track record masa lalunya, mengapa ia sampai terpuruk, jatuh kedasar, atau masa lalu yang menyebabkan si orang tersebut di hukum Tuhan.

Manusia lain adalah jalan wasilah," Penolong" jalan yang bisa membantu mereka yang sedang terpuruk bisa terangkat bangkit, dan maju kembali. Bersyukurlah kita bila memiliki teman seperti ini. Di saat yang lain mencampakan, menjauhi, dan tak mempedulikan. Ada malaikat berwujud manusia meraih tangan kita.

Lalu apa yang kau rasa ?

Pastinya tentu kita, "Yang terpuruk itu," bersyukur ! Yakin, dalam hatinya ia sangat berterima kasih pada Tuhan nya, juga pada si orang yang telah membantunya.

Untuk sesaat, dia sangat gandrung, dekat, dan lengket pada kita. dalam situasi seperti ini, kita sudah bagaikan saudara, bukan istilahnya teman lagi. Atau bisa jadi sosok kita adalah dewa penolong baginya, bahkan mungkin,  malaikat baik yang membawa keberuntungan untuknya.

Lalu Tuhan mencoba lagi, menguji ketulusan dari jalinan rasa, yang sudah terbangun tersebut, dengan memberinya sebuah keberuntungan, baik itu, ia mendapat kemudahan rezeki, dengan terbukanya pintu keberlimpahan, atau diberi wewenang amanah memegang sebuah jabatan, sehingga statusnya terkatrol akibat jabatan yang ia emban. Di sini Allah, Tuhan, menguji dirinya !

Apakah ia sadar ia tengah diuji ? Apakah ia faham keberlimpahan, status baiknya, dan kedudukan yang kini ia emban, itu sebagai sebuah titipan, yang berbatas waktu, dan itu tak akan lama ia miliki !

Maka Tuhanpun mendatangkan padanya, orang-orang dahulu yang pernah hilang. Lalu berdatanganlah, mereka yang sebelumnya meninggalkan dirinya saat ia terpuruk, menyemut...bagaikan semut menemukan gula.

Hidupnya kembali bagaikan raja! Kepercayaan dirinya kini telah melampaui langit ke tujuh, karena saking merasa jumawanya. Dia telah menemukan rasa hormat dari orang-orang yang ia cari. Maka jadilah ia sosok gila hormat, yang memposisikan orang lain lebih rendah statusnya dibanding dirinya.

Sehingga hal yang sama, ia terapkan pada siapapun, begitu juga, dengan orang yang telah berjasa menolongnya, sekarang harus tunduk, dan harus menghormatinya. Bila dulu ia cium tangan, gantian posisinya... sekarang tangan ia yang harus orang itu cium.

Ia lupa pada kita, teman yang sudah menyokongnya dengan materi, support dan doa, yang kemarin-kemarin ia anggap sebagai malaikat penolong, manusia setengah dewa, yang mampu memberinya nafas, dan menunjukan, arah, masih ada cahaya yang bisa ia songsong dimasa depan. Sekarang ia telah menjadi sombong, angkuh, dan so berkuasa. Takdirnya telah membuka karakter yang sebenarnya.

Itulah realita, kadang bagi  yang suka menolong, kepahitan macam ini adalah menjadi ujian pula bagi kita. Maka jadilah kita, sang penolong yang gantian di uji Tuhan.

Asik memang langkah Tuhan bermain dengan cara menguji diri kita !

Satu sisi orang yang dibantu kita, Allah uji dengan tertutupnya kembali mata hatinya, lalu Allah pun menguji kita sang penolong itu, dengan bentuk ujian ke ikhlasan, ujian kesabaran, dan kesadaran.

Semoga kita selalu ikhlas menjalankan peran kita dalam kehidupan sebagai penebar kebaikan. Apapun amal baik kita, lupakan! Allah mencatat itu, ia tak lupa apa yang kita lakukan. Jadilah manusia ikhlas. Manusia yang tak harus kecewa ketika ia dikecewakan! Manusia yang bisa terus memberi senyuman, walau ada kepahitan. Semoga kita bisa menjadi manusia seperti ini.

Semoga kita mampu menjadi manusia utama, manusia sempurna yang Allah sukai. Amiinn.***

(Penulis, Bambang Melga Suprayogi, S.Sn., M.Sn., adalah dosen di Telkom University (2012 – Sekarang), Ketua Bidang Dewan Kemamuran Masjid DMI Kab. Bandung (2021-2026), Pengurus Lakpesdam NU Kab. Bandung (2017-2021), Pembina UKM Comik Balon Kata (2012 – Sekarang), Ketua RW 17 Kelurahan Manggahang Kec. Baleendah (2012) dan Ketua Paguyuban Masyarakat BSI 2008. Juga pernah juara I Ilustrasi cover buku IKAPI DKI Jakarta (2006) dan juara 2 Lomba penulisan buku bacaan anak TK/SD tingkat Nasional PUSBUK (2008)).

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.