REFLEKSI | Kotak Amal itu Isinya Bukan Doa
Jangan Sampai Orang Jahat Lebih "Kaya" dari Orang Baik.
Ini ketakutan terbesar saya. Jika orang-orang baik sibuk memusuhi uang dan memilih hidup pas-pasan demi alasan "zuhud", lantas siapa yang menguasai ekonomi?
Para bandar judi. Para penipu skema Ponzi. Para kapitalis rakus. Akibatnya? Kejahatan punya modal triliunan untuk merusak generasi, sementara kebaikan harus mengemis di lampu merah pakai jaring ikan demi membangun tempat ibadah.
Menyeruput Pahitnya Realita. Saya teguk kopi hitam ini sampai ke ampas. Pahit. Sepahit kenyataan bahwa kita tidak bisa menolong orang tenggelam hanya dengan berteriak dari pinggir sungai. Kita butuh perahu, butuh pelampung, butuh tali.
Dan semua itu ada harganya. Berhentilah memusuhi uang seolah ia setan. Berdamailah dengannya. Kejar dia. Tangkap dia sebanyak-banyaknya. Lalu, jangan simpan di bawah bantal. Segera "sucikan" dia.
Jebloskan dia ke dalam penjara kotak amal. Paksa dia bekerja keras untuk membiayai jalan kita menuju tempat terbaik di akhirat nanti.
Saya meletakkan cangkir kopi yang sudah kosong ke atas lepeknya. Bunyi klanting kecil memecah keheningan pagi Cimenyan. Cangkir itu sudah selesai menunaikan tugasnya: memberi saya rasa.
Sekarang giliran kita menunaikan tugas: memberi dunia tenaga. Berhentilah berlindung di balik romantisme "hidup sederhana" jika itu sebenarnya hanyalah nama lain dari ketidakmampuan kita untuk bertarung.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!