REFLEKSI | Kotak Amal itu Isinya Bukan Doa
Oleh Didi Subandi
PAGI di Cimenyan. Kabut masih memeluk erat lembah, seolah enggan melepaskan dinginnya kepada matahari. Di kejauhan, corong masjid baru saja selesai mendengungkan nasihat zuhud: "Tinggalkan dunia, ia hanya bangkai yang menipu."
Namun, ironi segera terhidang lima menit kemudian. Corong yang sama kembali berbunyi, kali ini nadanya lebih rendah, sedikit memohon: "Kami mengetuk hati Bapak/Ibu, kas masjid sedang kosong, sementara atap butuh genteng dan karpet butuh diganti."
Di depan cangkir kopi yang uapnya menari-nari, saya tersenyum getir.
Ada komedi gelap yang sedang diputar di panggung kehidupan kita. Kita diajarkan untuk membenci "kertas-kertas bergambar pahlawan" itu sebagai sumber dosa.
Tapi di saat yang sama, kotak amal yang diedarkan dari saf ke saf itu menganga lebar, lapar, dan menuntut untuk diisi oleh benda yang baru saja kita kutuk tadi.
Inilah cermin retak kita pagi ini. Kita terjebak dalam Romantisme Kemiskinan.
Kita sering berkata dengan gaya filsuf mabuk: "Uang bukan segalanya."
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!