REFLEKSI | Islam yang Tak Memaksakan
Islam adalah suatu agama yang sangat mudah. Islam adalah agama yang mampu fleksibel, tergantung daya tawar pada diri kita, dan kesanggupan dalam menjalaninya. Ingat saat ada sahabat yang datang pada nabi tergesa-gesa, sambil mengatakan, "celakalah aku, celakalah aku." Setelah nabi tanya duduk persoalannya, ia ternyata telah berhubungan intim pada siang hari dengan istrinya, pada bulan Ramadan. Dan Nabi memintanya membayar kifarat, membebaskan budak, berpuasa selama dua bulan berturut-turut, memberi makan 60 orang miskin, dan ternyata semuanya tidak sanggup sahabatnya itu lakukan.
Sampai akhirnya ada sahabat Anshar yang datang pada saat itu menghampiri dan memberi nabi sekeranjang kurma, dan Nabi lalu malah memberikan sekeranjang kurma itu pada sahabat yang tadi ia suruh membayar kafaratnya. Nabi suruh ia memberikan kurma itu untuk ia sedakahkan pada orang lain, yang ternyata ia sendiripun membutuhkannya.
Hingga akhirnya Nabi pun tertawa melihat tingkah sahabatnya yang mengemaskan ini, subhanallah. Sebuah pelajaran dari sang Nabi, betapa ia bisa memberi solusi-solusi sampai akhirnya, solusi yang paling menarik adalah mempersilahkan kurma pemberiannya, yang harusnya bisa disedakahkan orang itu, malah jadi kurma untuk ia makan sendiri.
Begitulah Nabi kita, dan cerita semacam ini, tidak hanya satu, ada kisah yang hampir serupa, yang artinya, kita tidak boleh mempersulit orang lain, malah harus jadi bagian orang yang membantu dan mempermudah kesulitan orang lain.
Berlebihan adalah hal yang tidak sehat. Dan dalam keterpaksaan, justru yang ada, akan muncul penyakit hati, yakni penentangan, yang tampa sadar, malah merusak nilai dan keikhlasan kita itu sendiri.
Nabi adalah manusia yang paling berpengalaman, kita dalam hal ibadah, tentu mengacu dan mencontohinya. Pastinya kita sebagai umat, akan meneladani Nabi, dan patuh pada himbauan Nabi untuk kita ikuti.
Bisa jadi ada diantara kita, yang tidak tahu akan hal ini ! Atau kurang baca, kurang wawasan, bisa jadi malah belum pernah mendengar ! Hingga akhirnya, kita sebagai umat main perasaan, dan mengumbar egonya sendiri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!