REFLEKSI | Islam yang Tak Memaksakan

ED
Minggu, 10 April 2022 | 07:11 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Islam yang Tak Memaksakan

Oleh Bambang Melga suprayogi M.Sn.

DALAM banyak kasus ibadah, sebagai ritual kita dalam beragama, khususnya Islam, kadang kita terlalu memaksakan diri, melakukan ibadah yang berat, diluar kemampuan fisik dari diri kita sendiri.

Semisal kita melaksanakan salat sepanjang malam, sholat dengan bacaan yang sangat panjang, tampa memperhatikan kondisi jamaahnya, yang berbeda dalam kondisi, baik fisik maupun usia. Lalu puasa berlebihan di luar bulan puasa, dan dilakukan sepanjang waktu, berdzikir, wirid, dan mengejar pengajian-pengajian sampai lupa waktu, sehingga berdampak ada ketimpangan dan tidak wajar.

Apakah ini baik ? Apakah itu diajarkan oleh Nabi kita ?

Tentu tak salah, sangat baik dan mulia jika memang kita memiliki tujuan yang tulus, dan kondisi fisik yang prima, dan keluwangan waktu, dan dana yang kita punya.

Hanya saja dalam Islam, kita di ingatkan oleh Nabi, sebagai pembawa risalah kebaikan itu sendiri, beliau wanti-wanti, agar kita tidak terlalu berlebihan, tidak terlalu memaksakan diri, dan memforsir fisik diluar kemampuannya.

Hal tersebut yang nabi takutkan ! Hal berlebihan itu yang Nabi kita khawatirkan.

Atau kita memang merasa paling hebat. Merasa paling kuat, dalam melakukan ritual-ritual tersebut. Sampai kadang kita lupa diri, dan sangat berlebihan untuk hal itu.

Islam adalah suatu agama yang sangat mudah. Islam adalah agama yang mampu fleksibel, tergantung daya tawar pada diri kita, dan kesanggupan dalam menjalaninya. Ingat saat ada sahabat yang datang pada nabi tergesa-gesa, sambil mengatakan, "celakalah aku, celakalah aku." Setelah nabi tanya duduk persoalannya, ia ternyata telah berhubungan intim pada siang hari dengan istrinya, pada bulan Ramadan. Dan Nabi memintanya membayar kifarat, membebaskan budak, berpuasa selama dua bulan berturut-turut, memberi makan 60 orang miskin, dan ternyata semuanya tidak sanggup sahabatnya itu lakukan.

Sampai akhirnya ada sahabat Anshar yang datang pada saat itu menghampiri dan memberi nabi sekeranjang kurma, dan Nabi lalu malah memberikan sekeranjang kurma itu pada sahabat yang tadi ia suruh membayar kafaratnya. Nabi suruh ia memberikan kurma itu untuk ia sedakahkan pada orang lain, yang ternyata ia sendiripun membutuhkannya.

Hingga akhirnya Nabi pun tertawa melihat tingkah sahabatnya yang mengemaskan ini, subhanallah. Sebuah pelajaran dari sang Nabi, betapa ia bisa memberi solusi-solusi sampai akhirnya, solusi yang paling menarik adalah mempersilahkan kurma pemberiannya, yang harusnya bisa disedakahkan orang itu, malah jadi kurma untuk ia makan sendiri.

Begitulah Nabi kita, dan cerita semacam ini, tidak hanya satu, ada kisah yang hampir serupa, yang artinya, kita tidak boleh mempersulit orang lain, malah harus jadi bagian orang yang membantu dan mempermudah kesulitan orang lain.

Berlebihan adalah hal yang tidak sehat. Dan dalam keterpaksaan, justru yang ada, akan muncul penyakit hati, yakni penentangan, yang tampa sadar, malah merusak nilai dan keikhlasan kita itu sendiri.

Nabi adalah manusia yang paling berpengalaman, kita dalam hal ibadah, tentu mengacu dan mencontohinya. Pastinya kita sebagai umat, akan meneladani Nabi, dan patuh pada himbauan Nabi untuk kita ikuti.

Bisa jadi ada diantara kita, yang tidak tahu akan hal ini ! Atau kurang baca, kurang wawasan, bisa jadi malah belum pernah mendengar ! Hingga akhirnya, kita sebagai umat main perasaan, dan mengumbar egonya sendiri.

Yang pada akhirnya, itu bisa menjerumuskan dirinya, dan jika ia dipercaya dari sisi, segi status agama yang di anggap lebih, oleh orang lain, bisa jadi, ia secara sengaja, bisa menjerumuskan juga para jamaahnya, berbuat hal yang berlebihan.

Dalam peristiwa Nabi mendapatkan perintah salatpun, saat Isro Mi'raj, awalnya Nabi terima begitu saja kewajiban perintah salat yang Allah berikan, lalu beliau berubah pendirian, setelah bertemu dengan nabi Musa di langit ke enam, di mana Nabi Musa menginggatkan Nabi, agar meminta keringan kembali, pada Allah, karena perintah yang sama untuk umatnya Nabi Musa, Bani Israil pun, itu tak kuat umatnya emban...

Bayangkan risalah perintah salat dari 50 waktu, dan nabi bolak balik meminta keringan, jadi 10, akhirnya hanya 5 waktu, merupakan konsep cara berpikir kritis Nabi Musa, yang ia fahamkan kepada Nabi kita, menginggat kondisi fisik dari Umat Nabi Musa saja, tidak sanggup menjalankan ibadah sebanyak itu, apalagi umat Rasulullah Muhammad SAW.

Nah, cara berpikir kritis memang selayaknya menjadi faktor kita sebagai umat nabi melakukan suatu kajian dan analisis-analisis. Qur'an Surat Thaha ayat 2; Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah;

Qur'an surat Al-Baqarah ayat 185 Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.

Sebagaimana, Nabi pun melakukan hal yang sama, dalam melihat euforia umatnya, dipelaksanaan implementasi berbagai macam ibadah...sehingga dalam kitab Riyadhus Shalihin, karya Imam Nawawi, teguran nabi pada para sahabatnya, baik yang laki-laki maupun perempuan ada tercantum di sana.

Dari Anas Radhiyallahu anhu ia berkata, “Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bertanya tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu setelah mereka diberitahukan (tentang ibadah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), mereka menganggap ibadah Beliau itu sedikit sekali. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ! Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah diberikan ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang.”

Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.”

Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.”

Kemudian, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allâh! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allâh dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Terkait dalam hal sholat, serta khutbah, Nabi pun tak membuat yang menjadi jamaahnya, kelelahan mendengarnya, dan menjalankan sholatnya, itu seperti yang disampaikan oleh Abu Abdullah bin Samurrah As-Sawarni Ra., ia berkata ;" Seringkali saya saya salat bersama Nabi Saw., Tetapi dalam salat dan khutbah beliau tidak terlalu lama dan tidak terlalu pendek." (HR. Muslim)

Sangat santai Nabi dalam memberikan pemahaman dari contoh-contoh yang ia berikan, dan para sahabat saksikan, Nabi bukan sosok yang terlalu mengharuskan segala sesuatu harus kaku (saklek) dilakukan oleh umatnya, baik pada saat ia masih ada, maupun sekarang saat semua sudah jauh dari jamannya.

Pegangan bagi kita dalam meneladani cara Nabi melakukan praktek ibadah, baik sholat, puasa, berkhutbah, dan hal lainnya, yang menyangkut ritual ibadah, jangan sampai berlebihan, dan dibuat seakan harus seragam semuanya jadi kaku.

Dari Abu Hurairah Ra., dari Nabi Saw.,beliau bersabda ;" Sesungguhnya agama itu mudah, dan siapa saja yang mempersulitnya (agama,) maka ia akan kalah. Oleh karena itu sedang-sedanglah, dekatkan diri kalian (kepada Allah) dan bersuka hatilah kalian serta pergunakanlah waktu pagi, sore serta sedikit dari waktu malam ( untuk mendekatkan diri)!" (HR. Bukhari )

Islam itu agama yang sangat rasional, mudah difahami, dan tidak mempersulit umatnya, berbahagialah kita seperti dalam hadis terakhir yang penulis kutip, kita tak harus berlebihan dalam beribadah, namun Nabi Muhammad SAW, mengingatkan, Allah menyukai umatnya yang melakukan kebaikan dalam beribadah, dan beramal dengan kontinyu, secara terus menerus.

Alhamdulillah.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.