REFLEKSI | Islam Membentuk Budi Pekerti
Hasilnya bagaimana ? Umat akan meniru ulama yang jadi panutannya ! Ketika ulama itu memiliki budi pekerti dan kemuliaan, umat akan dibentuk seperti keutamaan budi pekerti yang ulama itu miliki.
Tapi jika ulama itu tak memiliki budi pekerti, ahlaqul karimah yang mulia, umat akan dibentuk seperti prototype ulamanya itu sendiri.
Hingga pada akhirnya, umat itu seperti kertas kosong (Tabula rasa) dalam teori pendidikan anak, menurut John Locke. Yang membutuhkan orang-orang dewasa untuk mengisi dan mewarnai nya, dan hal ini adalah gejala yang hampir sama !
Umat itu seperti anak, dan para Ustad, Khyai, Habaib, adalah orang dewasa. Dan pemahaman umat, di isi dan di warnai oleh Ustad-ustad dan Khyai-Khyai, dan Habaibnya tersebut.
Dimana para jamaah, murid, santri banyak terlihat mendapat isi dan warna dalam femahamannya, praktek muamalah dalam kehidupannya, sesuai siapa ustadnya, Khyainya, atau Habaib yang ia panuti.
Sehingga hal yang utama dalam menjadikan diri kita mampu meniru Ahlaqnya Nabi, Rosululloh Muhammad, adalah mencari figur, panutan dan guru, atau Mursyid, Habaib yang tepat !
Ada Istilah, salah berguru, kita akan salah jalan. Dan itu berlaku pada kita umat Islam yang ingin bisa meniru ahlaq Nabi, dalam berbagai sisinya.
Jika Akhlak kita tak menjadi lebih baik, setelahnya mendapatkan seorang guru, atau Mursyid...maka evaluasi ! Pantaskah kita terus berguru dan memanutinya !
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!