REFLEKSI | Islam Membentuk Budi Pekerti
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab [ 21] )
Ibnu katsir menerangkan bahwa ayat yang mulia itu merupakan dalil pokok yang paling besar, yang menganjurkan kepada manusia yang beriman, agar meniru Rasulullah SAW dalam semua ucapan, perbuatan, dan sepak terjangnya.
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu (umat manusia), serta sangat menginginkan kebaikan untuk kamu semua, lagi amat tinggi belas kasihannya serta penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS Al-Taubah : 128).
Begitu besar perhatiannya kepada umat manusia, sehingga hampir-hampir saja ia mencelakakan diri demi mengajak mereka beriman (QS Syu'ara : 3).
"Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." (QS Al-Kahf : 110)
"Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi yang mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari kemudian dan dia banyak menyebut Allah." (QS Al-Ahzab : 2l).
Jika Allah begitu sangat menyanjung Nabi Muhammad SAW, sehingga Keluhuran, kebaikan, Ahlaqnya, menjadi hiasan yang menaburi Al Qur'an, maka kita dapat mengambil titik tegas, bahwa ;
Nabi Muhammad SAW, manusia mulia. Nabi Muhammad SAW, manusia yang halus budi pekertinya. Nabi Muhammad SAW, manusia utama. Nabi Muhammad SAW, manusia teladan dalam hal ahlaqnnya. Nabi Muhammad SAW, manusia selalu menyerukan Keimanan. Nabi Muhammad SAW, manusia yang selalu banyak menyebut Allah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!