REFLEKSI | Dakwahmu Harus Indah dan Melampaui Zaman
Nabi berdakwah dengan penuh ujian, cobaan, dan benturan, dari budaya- budaya pagan yang sudah mengakar kuat pada bangsa Arab, kekuatan perpolitikan dan pengaruh para kabilah, serta ketua sukunya, dan para pembesarnya.
Namun dengan seizin Allah, dibarengi kesabaran, ketulusan, dan keluhuran budi pekerti Nabi SAW, kekuasaan para ketua kabillah, para kepala suku, dan pembesarnya, mampu akhirnya ia (Nabi) pahamkan, dan satukan, sehingga pada akhirnya, menjadikan bangsa Arab yang awalnya lemah, menjadi kekuatan baru yang sangat diperhitungkan, dan disegani, oleh kekuatan Persia dan Romawi.
Hal yang awalnya tak mungkin, yang pada akhirnya bisa terwujud, di karenakan dalam dakwah dari diri Nabi, dakwahnya mampu membangun kepercayaan diri, mampu memunculkan kualitas mental pantang menyerah, yang sangat luar biasa pengaruhnya.
Nabi SAW berdakwah dengan jiwa kepemimpinan, jiwa seorang leadership, jiwa petualang, jiwa pedagang, jiwa pengembala, jiwa kemanusian, dan terangkum semuanya, hingga bisa berdakwah di banyak kalangan, yang beda profesi, beda kedudukan, beda pemahaman, yang semuanya bisa di pahamkan, di satukan, hanya berbekal dakwahnya bisa menyelaraskan, dan menyesuaikannya, menggunakan,"bahasa kaumnya," berbahasa sesuai tingkatan pemahaman, tingkatan logika, dan tingkatan nalar yang mampu Nabi SAW efektifkan.
Nabi berdakwah dengan kesederhanaan, apa adanya ! Ia mengutamakan kedekatan, mengutamakan hati, mengutamakan kesetaraan, mengutamakan persaudaraan, saling kasih, dan mencintai, dan mengutamakan sisi kemanusian di atas segalanya.
Nabi berdakwah dengan banyak cara, tak hanya di atas mimbar, tapi selalu tampil memukau dan banyak mendapat perhatian. Sehingga perkataannya di catat sebagai hadist yang periwayatannya, selalu bersanad padanya. Yang perilakunya selalu jadi rujukan dan contoh, baik saat pada masa keberadaannya, maupun setelah ketiadaannya.
Nabi SAW berdakwah dengan banyak perhitungan, berstrategi, berkonsep, sehingga nilai dakwahnya bernilai tinggi, dan diakui para penguasa, para raja, sehingga merekapun membenarkan dakwahnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!