REFLEKSI | Dakwahmu Harus Indah dan Melampaui Zaman

ED
Kamis, 21 April 2022 | 07:30 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Dakwahmu Harus Indah dan Melampaui Zaman

Nabi dalam keseluruhan hidupnya, dari awal Islam di syiarkan, ia menyampaikan setiap dakwahnya, dengan penuh "Cinta," baik pada sahabatnya, para pemuka suku dari setiap khabilah, keluarganya, umat, dan untuk keseluruhannya pada manusia.

Nabi berdakwah tidak membangun kebencian, tidak membangun permusuhan, bahkan ia tak pernah melakukan dakwah untuk memprovokasi, sampai harus berapi api, mengajak manusia, atau umatnya untuk jadi umat pembenci, yang akhirnya kehilangan kesadaran diri, kehilangan hati, dan hingga nurani.

Nabi menyampaikan dakwah "mahabbah," dakwah cinta ! Ini bekal bagi umatnya untuk memasuki tangga kecintaan pada Illahi Rabbi, sehingga umat Nabi SAW, bisa memiliki keluhuran budi pekerti, keluhuran ahlaq, keluhuran ketaqwaan, dan keluhuran keimanan yang hakiki.

Nabi menyampaikan dakwahnya tak hanya retorika, manis di mulut, atau sekedar lipstik!...ia melakukan peraktek langsung apa yang disampaikan lewat lisan, ia kerjakan dalam realitas kehidupannya, sehingga, ada kesusuaian, apa yang di sampaikan dengan lisan beliau, beliau lakukan dalam perbuatannya.

Nabi pun berdakwah dengan perilaku, ia tidak hanya bicara, tidak hanya dengan kata-kata, tapi nabi lakukan lebih dari itu, yakni, dengan perbuatan, dan perilaku juga, ini dilakukan, sampai ia dipanggil keharibaan Tuhannya. Dari pernyataan Aisyah radhiyallahu`anhā ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah shallallāhu `alaihi wa sallam, beliau menjawab: “Akhlak rasulullah adalah Al Quran” (HR Ahmad).

Jika banyak alim ulama, juru dakwah, da'i, kiai, habib, berdakwah hanya mengutip ayat Al Qur'an ! Nabi sudah berahlaq Qur'an ! Dan itu bisa dibayangkan, betapa luhur dan mulia keseluruhan perbuatannya, sebab ia paham Qur'an yang menjadi penuntunnya, cahaya yang selalu menerangi dirinya, dan juga umat.

Nabi SAW berdakwah dengan kesabaran, waktu-waktu ia lewati, dan setiap perubahan tidak secepat kilat ia rasakan, berproses dalam kesabaran, berproses dalam ketawakalan.

Nabi berdakwah dalam keperihan dan penghinaan, dan bagi para Nabi, itu hal jamak, biasa, sehingga adanya cobaan, semakin meneguhkan ia, dan semakin membuatnya bergairah penuh semangat membara dan membaja, menyampaikan misi dakwahnya pada umat manusia.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.