REFLEKSI | Dakwahmu Harus Bijak

ED
Kamis, 12 Mei 2022 | 07:30 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Dakwahmu Harus Bijak

Mengapa begitu ? Itu karena Nabi SAW ingin apa yang ia katakan, sesuai dengan apa yang ada di hati, dan jadi bukti, tak hanya manis di mulut, tapi jauh dari realita, seperti para pemuja harta dari kalangan "ulama", yang kini banyak kita lihat, mereka telah salah kaprah, mengambil keuntungan dari gelarnya sebagai ulama...sehingga untuk mengundang mereka sekedar memberi dakwah, pencerahan pada umat, kita harus memperhitungkan tarifnya.

Dan untuk itu, umat harus udunan, menyiapkan bayarannya. Hebat, luar biasa jauh dari spirit Nabi-nya.

Dan dakwah Nabi SAW yang hidup dalam pola kesederhanaan ini, sebenarnya ditujukan untuk para ahli agama tersebut, kepada para ulama pewaris para Nabi.

Yang pada mereka, ada keteladanan sosok Nabi SAW, yang akan menjadi contoh nyata, dan kongkrit bagi umat, untuk mendapatkan gambaran figur Nabi kembali, dari sosok pribadi dan kesederhanaannya para ulama itu, dan itu, akan di contoh oleh mereka, umat ini.

Figur ulama yang mengedepankan hidup sederhana, adalah contoh yang baik. Tidak seperti para pendakwah jaman sekarang, yang sebagian bergelar "ustad", "kiai", namun gila duniawi, dan malah mengejar keduniawiannya, sampai-sampai itu dibuat senetron, oleh sebuah televisi swasta, untuk memparodikan fenomena tersebut.

Nabi menjadikan dakwahnya sebagai penyejuk dan pemberi keteduhan, berbeda dengan dakwah masa kini yang ujung dari isinya menjadi sumber perdebatan, sumber konflik, dan memuat kebencian yang nyata disuarakan, sehingga pendakwah sudah tidak bicara hikmah lagi, yang ada, malah memecah belah umat, memprovokasi dan membakar semangat kebencian umat, terkhusus membenci pimpinan negerinya, yang sering di lakukan para Ustad di media Sosial.

Nabi menjadikan dakwahnya sebagai pemberi solusi,dan penuh kecerdasan, banyak kita simak, bagaimana Nabi memutuskan suatu perkara bagi sahabatnya, dengan solusi yang harus ia lakukan, tapi si sahabat ini menawar, karena ketidakmampuannya melakukan apa yang disarankan Nabi, hingga akhirnya, sekeranjang kurma dari sahabat Nabi yang lain, diberikan kepadanya untuk di sodakohkan, yang ada... malah sahabat ini juga termasuk orang yang membutuhkan, sehingga solusi terakhir dari Nabi, memberikan kurma itu untuk dimakan oleh keluarganya, Masya Allah! Sampai seperti itu Nabi membuat solusi, tidak memberatkan, malah jadinya membantu.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.