REFLEKSI | Allah Tak Bisa Ditipu
Lantas bagaimana jika kemunafikan dilakukan oleh para pemuka agama ?
Qur'an surat Al-Baqarah ayat 17 ; Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
Pegangan surat Al Baqarah ayat 17 di atas, itu bisa di tujukan pada seluruh orang munafik, apakah ia yang berislam karena suatu hal, atau mereka yang sudah beriman, namun dihatinya tersimpan kemunafikan, dan Allah menghilangkan harapan yang semula telah mereka punya, dengan memadamkan apinya kembali, sehingga mereka ada dalam keadaan gelap gulita seperti sebelumnya, yang dalam keadaan gelap sangat pekat.
Orang munafik adalah orang dengan niat yang tersembunyi dalam hatinya, ia memiliki maksud buruk, dengan menampakan wajah manis sehingga orang terkecoh karenanya.
Orang Munafik adalah orang yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia di sekelilingnya, pada jaman Khulafaur Rasyidin, dari mulai masa pemerintahan Umar bin Khattab sampai dengan masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, keberadaan orang yang menyamar menjadi muslim sebelumnya, dan pada akhirnya menampakan wajah aslinya, telah mencatatkan jejak berdarah yang merugikan umat Islam secara beruntun, sehingga apa yang di gambarkan nabi tentang keadaan suatu zaman dimana orang Munafik ini kita ketahui gambarannya, hendaknya menjadi bekal pegangan kita yang kuat dalam menyikapi keberadaan mereka, sebelum menjadi besar, sebelum menjadi kuat, dan sebelum mereka melakukan hal yang sama seperti pada masa di mana Khulafaur Rosyidin berkuasa.
Pada prakteknya orang munafik merupakan virus yang sangat berbahaya bagi umat, ia bisa menjadi sumber perpecahan, sumber terjadinya perbedaan paham, munculnya dua kubu yang saling berlawanan dan berhadapan, dan penguat adu domba di kalangan umat, untuk selalu mengobarkan pergolakan, hingga kita selalu di buat resah, sebab mereka selalu bisa mendidihkan tensi memanaskan situasi pada masing-masing golongan, dalam mempertahankan kebenarannya, menurut anggapan mereka masing-masing.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!