REFLEKSI | Akhlak Adalah Sayap Kemalaikat Kita
Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.
MEREKA yang terlahirkan dengan keyakinan bisa beriman kepada sang maha pencipta, menganut agama samawi, khususnya Islam dan menikmati menjadi seorang Muslim, harus sangat pandai bersyukur kepada Tuhan, dan pandai berterima kasih pada Nabinya, Muhammad SAW.
Menjadi muslim yang baik, menjadi muslim yang pandai menempatkan diri, merupakan ciri dari keberadaan manusia yang mau berpikir, dan mensyukuri nikmat Allah.
Dihadapkan pada fenomena akhir zaman, muslim yang kita lihat di bumi Indonesia, akhir-akhir ini, sangat menunjukan identitas kemuslimannya yang ekslusif, muslim yang ambisius, muslim yang diwakili ego dan nafsu, sehingga terkikis karakter muslim yang membumi, dan muslim yang santun.
Muslim Indonesia yang diwakili beberapa gelintir manusia yang selalu mengatasnamakan umat, muncul sebagai representasi keseluruhan muslim, sehingga yang merasa telah jadi wakil umat, berani menjadi jubir (juru bicara), akhirnya malah meruntuhkan marwah kebesaran keagungan Islam itu sendiri.
Dari keberadaan jubir-jubir pemegang fatwa itu, hilang kebesaran citra positif Islam, yang awalnya bisa menjadi role model mampu memberi rahmat bagi alam.
Mengapa itu terjadi ?
Ruh Akhlak sebagai pijakan kesantunan lenyap. Ruh Akhlak sebagai pijakan rasa malu runtuh.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!