REFLEKSI | Akhlak Adalah Sayap Kemalaikat Kita
Ruh Akhlak sebagai pijakan kecerdasan dan kebijaksanaan telah pergi...dan yang ada, manusia dengan pikirannya sendiri, nafsu dan emosinya, dan akhirnya, Iblis bebas menunaikan tugasnya tampa ada hambatan, sebab, akhlak si manusia itu telah lenyap.
Islam sebagai orentasi puncak kebaikan akhlak, seperti apa yang dicontohkan Nabi, yang telah menanam bibit akhlak mulia itu dijaman para sahabat, memupuk dengan subur hingga generasi tabiin, dan generasi berikutnya, dan memanen hasilnya dengan baik, pada generasi munculnya para imam yang mendorong kebaikan faham sesuai tuntunan-tuntunan akhlak, dan pedoman kebenaran sesuai ijtihad masing-masing mazhab oleh para imam Mujtahidnya.
Perjuangan Nabi adalah membangun pondasi akhlak. Perjuangan para sahabat menata temboknya akhlak.
Para tabiin dan tabi'ut tabiin mengatapinya. Para imam mempercantik keseluruhan bangunannya. Para wali Allah menjaganya sebaik mungkin. Para ulama memelihara keseluruhannya. Dan Muslim yang baik turut membantu agar cahaya akhlak itu tidak redup, memudar, dan lenyap.
Peran keberadaan akhlak tak bisa hilang dari pribadi muslim. Akhlak adalah senjata ampuh kita melawan kegelapan, kebodohan, kejahiliahan, kesombongan, dan nafsu angkara yang dihembuskan iblis.
Hilangnya akhlak mulia dari seorang pribadi muslim, sekelompok muslim, atau umat muslim, maka hilang cahaya kedamaian, cahaya persaudaraan, dan akhirnya hilang cahaya keimanannya.
Akhlak itu mata air kehidupan. Kemuliaan manusia ditentukan akhlaknya.
Dan untuk itulah nabi dihadirkan utamanya bagi umat muslim, agar umat gandrung untuk memperbaiki akhlaknya terlebih dahulu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!