RAMADANAN | Bagaimana Etika Mendengarkan Bacaan Al-Qur’an?
Ketiga, ayat ini diturunkan sebagai perintah untuk tidak mengeraskan bacaan Al-Qur’an di belakang imam shalat.
Keempat, ayat ini diturunkan sebagai perintah untuk diam ketika khutbah Jumat sedang berlangsung, serta fokus mendengarkannya. Pendapat ini dikutip dari ulama kalangan Syafi’iyah. (Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir Mafatih al-Ghaib, , juz XV, halaman 439).
Syekh Hasanain Muhammad Makhluf, salah satu mufti besar di Mesir pada tahun 1946-1950 M, menjelaskan bahwa terdapat beberapa etika yang harus diperhatikan oleh orang-orang yang mendengarkan Al-Qur’an, di antaranya adalah memiliki tujuan untuk beribadah kepada Allah, memperhatikan bacaannya, menumbuhkan kesadaran dalam dirinya, mendengarkan dengan seksama, dan diam.
Dalam kitabnya disebutkan:
وَمِنْ أَدَابِ السِّمَاعِ اَلْاِنْتِبَاهُ وِالتَّيَقُّظُ وَالْاِصْغَاءُ وَالْاِنْصَاتُ
Artinya, “Dan di antara etika mendengarkan (Al-Qur’an) adalah memperhatikan (bacaannya), menumbuhkan kesadaran diri (menjadi motivasi), mendengarkan dengan benar, dan diam.” (Hasanain Makhluf, Al-Qur’an: Adabu Tilawatih wa Sima’ih, , halaman 40).
Demikian penjelasan perihal etika-etika ketika mendengar bacaan Al-Qur’an. Dengan mengetahuinya, semoga menjadi penambah untuk terus senang membaca Al-Qur’an dan mendengarkannya, serta bisa menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber hidayah untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah. @mpa/nu/ustadz sunnatullah
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!