RAMADANAN | Bagaimana Etika Mendengarkan Bacaan Al-Qur’an?
VISI.NEWS | BANDUNG - Al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang Allah swt turunkan kepada Nabi Muhammad saw untuk dijadikan pedoman dan sumber hidayah oleh umatnya. Dengan berpedoman pada Al-Qur’an, maka semua umat Islam akan mendapatkan jaminan selamat di dunia dan di akhirat.
Selain itu, semua hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an memiliki nilai yang sangat agung dan memiliki nilai pahala. Orang yang membaca Al-Qur’an misalnya, dan juga orang-orang yang mendengarkan bacaan tersebut.
Semua bernilai kebaikan dan mengandung pahala. Karena itu, semua umat Islam dianjurkan untuk membacanya dan dianjurkan pula untuk mendengarkannya.
Dalam kesempatan ini, penulis akan menjelaskan perihal etika-etika mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi. Hal ini sangat penting untuk diketahui, karena selama ini banyak orang yang mendengarkan bacaannya, namun tidak tahu etika yang harus dipedomani.
Berkaitan dengan hal ini, Al-Qur’an menjelaskan perihal etika-etika yang harus dipedomani oleh orang yang mendengarkan bacaannya. Allah swt berfirman:
وَإِذَا قُرِئ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya, “Apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al-A’raf: 204).
Secara eksplisit, ayat ini menjelaskan bahwa yang harus dilakukan oleh orang-orang ketika mendengar bacaan Al-Qur’an adalah mendengarkannya dan diam. Namun secara implisit, terdapat dua lafal yang harus dipahami maksudnya dengan tepat dan benar, yaitu lafal fastami’u dan lafal anshitu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!