VISI | MENEPI Ketika Jiwa Perlu Beristirahat dari Kebisingan Dunia
Oleh: Drajat
- Guru
- Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan, IDIP Kab. Bandung
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- APKS PGRI Prov. Jabar
ADA kalanya seseorang tidak sedang lelah karena bekerja. Ia lelah karena terlalu banyak melihat. Terlalu banyak mendengar. Terlalu banyak memikirkan. Dan terlalu banyak menyimpan kegelisahan yang tidak mampu ia ubah sendirian. Hari ini, banyak orang mengalami kelelahan semacam itu. Bukan hanya tubuh yang lelah. Tetapi juga pikiran. Bahkan jiwa.
Setiap hari kita disuguhi berbagai informasi yang datang tanpa henti. Pagi hari membuka telepon genggam, berita demi berita berlari memenuhi layar. Siang hari media sosial dipenuhi perdebatan. Malam hari muncul lagi persoalan baru yang membuat kepala semakin sesak. Belum lagi berbagai drama yang dipertontonkan di hadapan rakyat. Ironisnya, tidak sedikit drama itu justru lahir dari mereka yang seharusnya menjadi teladan. Mereka yang dipercaya mengelola negeri. Mereka yang seharusnya menjaga amanah. Mereka yang semestinya menghadirkan ketenangan. Namun yang hadir justru kegaduhan.
Entah sejak kapan negeri ini menjadi begitu ramai. Ramai oleh komentar. Ramai oleh pencitraan. Ramai oleh pertengkaran. Ramai oleh saling menyalahkan. Bahkan yang lebih menyedihkan, ramai oleh upaya memutarbalikkan kenyataan. Yang benar sering dibuat tampak abu-abu. Yang salah diberi panggung. Yang jujur dianggap mengganggu. Yang kritis dicurigai. Sementara mereka yang pandai menyenangkan atasan justru sering mendapat tempat istimewa. Fenomena ini membuat banyak orang baik merasa lelah. Termasuk para pendidik.
Sebagai pendidik, penulis sering merasakan kegelisahan itu. Setiap hari mengajarkan kejujuran. Setiap hari berbicara tentang karakter. Setiap hari mengingatkan pentingnya tanggung jawab. Namun di luar pagar sekolah, peserta didik melihat kenyataan yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan. Mereka melihat ketidakadilan. Mereka melihat kepongahan. Mereka melihat bagaimana kebenaran kadang harus berjuang keras hanya untuk didengar. Tentu ini tidak mudah. Karena guru bukan hanya mengajar mata pelajaran. Guru juga menjaga harapan. Guru menjaga agar anak-anak tetap percaya bahwa kejujuran masih memiliki tempat. Bahwa kebaikan masih layak diperjuangkan. Bahwa masa depan tetap pantas diimpikan. Dan tugas itu menguras energi yang tidak sedikit.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!