VISI | MENEPI Ketika Jiwa Perlu Beristirahat dari Kebisingan Dunia
Di tengah keadaan seperti itu, ada satu hal yang perlu dipelajari: menepi. Sayangnya, banyak orang salah memahami makna menepi. Menepi dianggap sebagai bentuk kekalahan. Dianggap sebagai bentuk menyerah. Padahal tidak. Menepi adalah bentuk kebijaksanaan. Seorang pelaut yang baik tahu kapan harus berlayar dan kapan harus berlabuh. Seorang petani tahu kapan harus menanam dan kapan harus membiarkan tanah beristirahat. Demikian pula manusia. Ada saatnya kita terus bergerak. Tetapi ada saatnya kita perlu berhenti sejenak untuk memulihkan diri.
Tubuh yang lelah bisa tidur. Tetapi jiwa yang lelah memerlukan sesuatu yang lebih dalam. Ia membutuhkan keheningan. Ia membutuhkan jeda. Ia membutuhkan ruang untuk kembali mendengar suara hatinya sendiri. Dalam dunia hipnoterapi dikenal sebuah prinsip sederhana: pikiran yang terlalu penuh sulit menemukan solusi. Ketika gelas sudah penuh, air baru tidak akan bisa masuk. Demikian pula pikiran manusia. Ketika terlalu dipenuhi kegelisahan, kemarahan, dan informasi yang tidak perlu, maka kebijaksanaan sulit tumbuh. Karena itu, sesekali kita perlu mengosongkan diri. Bukan untuk lari dari masalah. Tetapi agar memiliki tenaga baru untuk menghadapinya.
Banyak orang berpikir menepi berarti pergi jauh. Ke gunung. Ke pantai. Ke tempat yang sunyi. Padahal menepi yang paling penting adalah menepi ke dalam diri sendiri. Duduklah sejenak. Tarik napas perlahan. Rasakan bahwa hidup ini masih berjalan. Masih ada udara yang bisa dihirup. Masih ada keluarga yang dicintai. Masih ada kesempatan untuk berbuat baik. Masih ada Tuhan yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Sering kali ketenangan bukan ditemukan di tempat yang jauh. Melainkan di hati yang kembali terhubung kepada Sang Pencipta.
Guru adalah manusia biasa. Guru juga bisa lelah. Guru juga bisa kecewa. Guru juga bisa kehilangan semangat. Namun seorang guru tidak boleh terlalu lama tinggal dalam kelelahan. Karena di ruang kelas ada puluhan pasang mata yang menunggu. Ada anak-anak yang membutuhkan harapan. Ada generasi yang membutuhkan cahaya. Maka sebelum menyalakan cahaya untuk orang lain, guru harus terlebih dahulu memulihkan cahaya dalam dirinya. Dan salah satu caranya adalah dengan menepi. Membaca. Berdoa. Berdzikir. Menulis. Berjalan santai. Menikmati secangkir kopi. Atau sekadar menikmati matahari pagi. Hal-hal sederhana yang sering kita abaikan justru mampu mengisi ulang energi kehidupan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!