VISI | MENEPI Ketika Jiwa Perlu Beristirahat dari Kebisingan Dunia
Ada pelajaran penting yang semakin penulis pahami seiring bertambahnya usia. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Tidak semua kegaduhan harus ditanggapi. Tidak semua berita harus dipercaya. Dan tidak semua pertarungan harus diikuti. Kadang menjaga kewarasan jauh lebih penting daripada memenangkan perdebatan. Karena energi kita terbatas. Dan akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk mendidik, berkarya, membantu sesama, dan memperbaiki diri.
Menepi bukan tujuan akhir. Menepi hanyalah tempat singgah. Seperti seseorang yang berhenti di tepi jalan untuk mengatur napas sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah tenang. Setelah kuat. Setelah jernih. Kita kembali berjalan. Kembali bekerja. Kembali mengabdi. Kembali menebar manfaat. Karena dunia tetap membutuhkan orang-orang yang memilih menjadi cahaya di tengah gelap.
Jika hari-hari ini Anda merasa lelah. Jika berita-berita membuat hati sesak. Jika keadaan membuat pikiran penat. Mungkin bukan karena Anda lemah. Mungkin jiwa Anda hanya sedang meminta waktu untuk beristirahat. Maka menepilah sejenak. Tarik napas perlahan. Lepaskan beban yang tidak perlu. Serahkan hal-hal yang tidak mampu Anda kendalikan kepada Allah.
Lalu dengarkan kembali suara hati Anda. Karena sering kali, di tengah dunia yang terlalu bising, kebijaksanaan justru lahir dari keheningan. Dan dari keheningan itulah kita menemukan kembali kekuatan untuk melanjutkan perjalanan. Bukan sebagai manusia yang marah kepada dunia. Tetapi sebagai manusia yang tetap memilih menjadi cahaya, meskipun dunia sedang kehilangan arah. Sebab pada akhirnya, tidak semua kemenangan diraih dengan berlari kencang. Ada kalanya kemenangan dimulai dengan satu keputusan sederhana: menepi sejenak, agar mampu berjalan lebih jauh.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!