Putra Khalifah Harun Ar-Rasyid Enggan Nikmati Fasilitas Negara
"Apakah kamu perlu bantuanku?" ucap Abdullah menawarkan diri. "Iya, saya punya sebuah amanah, apakah engkau mau menerimanya?" tanya pemuda itu yang kemudian disanggupi Abdullah. Merasa umurnya sudah tidak akan lama lagi, pemuda itu kemudian meminta kepada Abdullah agar mencuci baju dan kain wol, kemudian dijadikan sebagai kain kafan untuk membungkus tubuhnya jika sudah meninggal. "Di kantong baju itu ada cincin. Ambillah cincin itu," ungkap pemuda tersebut.
Kelak, kata pemuda itu, tunggulah Khalifah Harun Ar-Rasyid lewat dan berdirilah di tempat yang sekiranya bisa dilihat olehnya. Setelah itu coba ajak bicara dan tunjukkan cincin tersebut. "Tapi jangan lakukan itu kecuali ketika aku sudah meninggal," pinta pemuda itu.
Bertemu Khalifah Harun Ar-Rasyid Pemuda itu akhirnya meninggal dunia. Abdullah Al-Faraj melaksanakan wasiat, yaitu menunggu di sebuah tempat yang biasanya dilewati iring-iringan Khalifah Harun Ar-Rasyid. Saat yang dinanti pun akhirnya tiba, Harun Ar-Rasyid datang melintas bersama sejumlah pengawal. "Wahai Amirul Mu'minin, ada amanah yang harus kusampaikan padamu," teriak Abdullah sambil menunjukkan cincin pemuda tadi.
Teriakan dan cincin itu berhasil menarik perhatian Harun Ar-Rasyid dan membawa Abdullah Al-Faraj ke sebuah rumah. "Siapakah engkau? Dari mana engkau dapatkan cincin ini?" tanya Harun Ar-Rasyid sambil memegang cincin tersebut. Abdullah Al-Faraj kemudian mengenalkan diri dan menceritakan semua yang terjadi tentang pemuda itu. Harun Ar-Rasyid kemudian menangis.
Merasa penasaran, Abdullah pun bertanya tentang sosok pemuda yang memberinya cincin. "Dia adalah anakku. Dia dilahirkan sebelum saya diuji dengan jabatan khalifah. Dia diasuh dengan pengasuhan yang baik, belajar Al-Qur'an dan ilmu agama. Saat saya diangkat jadi khalifah, dia meninggalkanku dan tidak mau mengambil sedikit pun dari duniaku," beber Harun Ar-Rasyid. Abdullah Al-Faraj yang masih penasaran dengan ceritanya terus mendengarkan dengan seksama.
"Saya kemudian memberikannya cincin ini lewat ibunya. Cincin ini berbahan Yaqut dan cukup mahal. Jika dalam kondisi darurat, dia bisa menjual cincin ini. Setelah ibunya wafat, saya tidak lagi mendengar kabarnya kecuali dari engkau," ucap Harun melanjutkan ceritanya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!