Pengamat Nilai Swasembada Gula Perlu Reformasi Menyeluruh Industri Nasional
./visi.newsalodokter.
VISI.NEWS - Target swasembada gula nasional dinilai sulit tercapai apabila pemerintah hanya berfokus pada perluasan lahan tebu dan peningkatan produksi. Pengamat menilai persoalan industri gula nasional telah bersifat struktural dan berlangsung selama puluhan tahun sehingga membutuhkan pembenahan menyeluruh dari sektor hulu hingga hilir.
Doktor Sosiologi Universitas Padjadjaran sekaligus Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik, Jannus TH Siahaan, mengatakan persoalan industri gula nasional tidak dapat dipersempit hanya pada aspek produksi. Menurutnya, rendahnya produktivitas di tingkat budidaya maupun pengolahan menjadi persoalan utama yang hingga kini belum tertangani secara serius.
"Untuk mencapai swasembada gula, problemnya jangan dipersempit hanya pada perluasan lahan atau peningkatan produksi tebu, tetapi harus dilihat sebagai persoalan struktural dari hulu hingga ke hilir yang sudah berlangsung puluhan tahun," ujar Jannus dalam keterangannya dikutip, Selasa (4/8/2026).
"Dan menurut saya masih saja belum diurus serius. Basis utamanya adalah produktivitas yang rendah, baik di tingkat on-farm maupun off-farm," tambahnya.
Menurut Jannus, produktivitas tebu Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara produsen utama. Rendemen gula juga cenderung stagnan akibat penggunaan varietas yang belum optimal, praktik budidaya yang kurang efisien, serta banyaknya pabrik gula yang telah berusia tua sehingga tingkat efisiensi ekstraksi gula masih rendah.
Ia menilai upaya mewujudkan swasembada gula memerlukan reformasi menyeluruh terhadap ekosistem industri gula nasional. Salah satu langkah yang dinilai perlu dilakukan adalah reformasi agronomi berbasis riset melalui percepatan penanaman kembali menggunakan varietas unggul, penerapan mekanisasi panen, serta pemanfaatan teknologi pertanian presisi.
"Reformasi agronomi berbasis riset, percepatan replanting dengan varietas unggul berdaya rendemen tinggi, mekanisasi panen, dan precision farming," katanya.
Selain itu, Jannus menilai revitalisasi total pabrik gula menjadi kebutuhan mendesak karena banyak fasilitas pengolahan telah berusia lebih dari satu abad. Ia juga menekankan pentingnya konsolidasi lahan dan penguatan kelembagaan petani mengingat fragmentasi kepemilikan lahan membuat skala ekonomi sulit tercapai.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!