Pembakaran Al Quran dan Urgensi Bangun Kesepahaman Barat dan Islam
VISI.NEWS - Pembakaran Al Quran yang dilakukan politisi sayap kanan garis keras Denmark-Swedia, Rasmus Paludan, kembali membuat ketegangan antarumat di dunia.
Kita bisa membaca adanya sentimen negatif terhadap Muslim Eropa. Ini tidak lain adalah bentuk ekspresi dari fenomena Islamofobia.
Insiden pembakaran kitab suci umat Islam semakin mempertegas demarkasi umat, antara dunia Barat dan dunia Islam. Pemahaman masa lalu manusia kenyataannya tidak kunjung usai dengan dideklarasikannya sejumlah konsensus perdamaian dunia, seperti Declaration of Human Right atau Declaration The International Day to Combat Isamohopobia.
Islamofobia jelas mengancam peradaban dunia. Tindakan Paludan ini menunjukkan adanya kegagalan sejarah dalam merekonstruksi kehidupan sosial dan kesepahaman antarumat (political myth).
Sejumlah pertanyaan menarik untuk diajukan, mengapa selalu ada dikotomi dalam dinamika pergaulan umat dunia? Misalnya, Dunia Barat versus Dunia Timur, atau Bangsa Eropa versus Umat Islam?
Pertanyaan ini berusaha mengeksplor ulang sejarah. Pasalnya, bangsa-bangsa di dunia berdiri dan dibangun di atas pergulatan kepentingan, luka, darah, kebencian, dan peperangan.
Rajutan sejarah ini terus membayangi-bayangi masa depan umat manusia. Seolah-olah antara umat yang satu dengan yang lainnya ditaruh dalam kompetisi-dominatistik yang tidak berkesudahan.
Fakta sejarah menunjukkan Perang Salib, Perang Dingin, atau Perang Invansif seperti Rusia-Ukraina yang selalu melibatkan dua wujud elemen dalam sejarah panjang umat manusia, Timur vs Barat atau Eropa vs Islam. Paradigma kesejarahan ini akan terus menempatkan umat saling berhadapan, hingga saling menjatuhkan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!