Pembakaran Al Quran dan Urgensi Bangun Kesepahaman Barat dan Islam
Padahal Islam dalam ajarannya sangat menjunjung tinggi multikulturalisme ( Gabriele Marranci dalam Multiculturalism, Islam and Class of Civilisations Theori: Rethingking Islamophobia).
Perbedaan dilihat sebagai bentuk keindahan dan rahmat dari Tuhan. Paradigma kemanusiaan seperti perdamaian, toleransi, persatuan, dan ukhuwah dalam Islam sangat ditekankan. Tidak ada narasi ataupun anasir kekerasan dalam memandang perbedaan dan kebebasan yang melekat dari diri manusia.
Sangat tidak bijak sebenarnya, mengadili Islam dengan sebagian fenomena yang tidak ada korelasinya dengan Islam itu sendiri, baik secara ajaran dan perilakunya. Wujud Islam yang antroposentris sebagai bentuk manifestasinya dari keluhuran teosentris menjadi asing dalam realitas pergaulan umat dunia.
Ada dua kelompok yang tidak bertanggungjawab di sini. Pertama, aliran keras yang menggunakan narasi dakwah atau ijtihad Islam di dalamnya. Tanpa disadari, mereka sebenarnya membangun permusuhan terhadap sesama Islam.
Dengan kekerasan yang mereka lakukan, tumbuh kebencian dunia terhadap umat Islam.
Kedua, klaim tunggal terhadap Islam yang dilakukan para kaum populis sehingga membentuk sentimen berlebihan. Mereka memahami Islam secara tidak adil karena mengedepankan sentimen dengan akumulasi pengetahuan yang timpang.
Alhasil, muncul stereotip yang mengandung permusuhan dan rasisme terhadap Islam. Tidak lain, Islam hanya dipahami sebagai kekerasan dan tidak berkemanusiaan.
Dua kelompok ini yang pada kenyataannya melahirkan fenomena Islamofobia. Maka tidak heran jika persinggungan umat kembali memanas dengan insiden pembakaran Al Quran. Jelas posisi Islam dijadikan sebagai alat konspirasi untuk kepentingan yang belum berkesudahan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!