Pembakaran Al Quran dan Urgensi Bangun Kesepahaman Barat dan Islam
Kita lumrah menyebutnya dengan “pengutuban destruktif” untuk masa depan umat manusia.
Dalam taraf ini, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perlu merekonstruksi paradigma kesejarahan dunia. Hal itu bisa berupa nota kesepahaman untuk perdamaian dunia.
Dengan paradigma baru itu, diharapkan lahir semacam memori dialogis dalam membangun kesepahaman dan perdamaian untuk keberlangsungan masa depan umat manusia itu sendiri.
Ia harus dipahami sebagai tonggak memori perjalanan bangsa-bangsa ( Edward Said dalam Invention, Memory and Place)
Selanjutnya, kebencian terhadap Islam atau Islamofobia timbul dari hasil interpretasi Dunia Barat terhadap Islam.
Kaum populis atau kelompok garis keras Eropa melihat Islam sebagai bentuk kepercayaan yang sarat dengan kekerasan dan tanpa kompromi terhadap perbedaan. Jelas hasil bacaan tersebut menghasilkan narasi interpretan “Islamophobia”.
Di satu sisi, kita tidak bisa menampik adanya kelompok keras dalam Islam sendiri. Mereka selalu mendakwahkan Islam secara dikotomis, membawa narasi jihad, meruntuhkan sisi-sisi kemanusiaan, hingga bom bunuh diri berhasil membentuk cara pandang tersendiri terhadap Islam.
Hal ini sangat kontrapersepsi dengan ‘multiculturalism’ yang terus digaungkan akhir-akhir ini sebagai manifestasinya dari demokrasi liberal.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!