Memahami Takdir Sebelum Makhluk Diciptakan
Sebagian orang keliru dalam memahami makna takdir hingga muncul pertanyaan, “Jika segala sesuatu sudah berjalan sesuai dengan takdir, lalu apa gunanya berusaha dan berdoa? Bukankah takdir itu sendiri yang menggerakkan manusia menuju apa yang telah ditentukan baginya? Mengapa tidak ditinggalkan saja usaha dan doa itu, toh semuanya sudah ditakdirkan?”
Imam as-Shan‘ani memberikan penjelasan atas kerancuan semacam ini. Beliau mengatakan:
هذا سؤال يورده من لا يعرف حكمة الله في ربط الأسباب بالمسببات فإنه تعالى قد جعل مجرد الطلب سببا ولم يجعل إذلال النفس سببا فإن فعل السبب المباح وقدر تعالى قضاء الحاجة قضيت وإلا فلم أذل نفسه ولا ترك ما أمر به
Artinya, “Pertanyaan seperti ini muncul dari orang yang tidak memahami hikmah Allah dalam mengaitkan sebab dengan akibat. Sebab Allah Ta‘ala telah menetapkan bahwa usaha dan permintaan itu adalah bagian dari sebab yang mengantarkan pada hasil (musabbab). Allah tidak menjadikan kehinaan diri dan kemalasan sebagai sebab datangnya rezeki atau terpenuhinya kebutuhan.”
Maka, jika seseorang melakukan sebab yang dibolehkan (seperti berusaha atau berdoa), kemudian Allah memang menakdirkan terpenuhinya kebutuhannya, maka kebutuhan itu akan terpenuhi. Namun, jika Allah tidak menakdirkannya, maka orang itu tidak kehilangan apa pun, karena ia tidak menghinakan dirinya dan tidak meninggalkan apa yang telah diperintahkan Allah kepadanya,” (As-Shan’ani, at-Tanwir Syarh Jami’is Shaghir, , jilid II, halaman 436).
Dengan kata lain, takdir tidak meniadakan usaha manusia. Justru usaha itu sendiri adalah bagian dari takdir Allah. Jika Allah menakdirkan seseorang mendapat rezeki, maka Dia juga menakdirkan adanya sebab untuk memperoleh rezeki tersebut seperti bekerja, berdoa, dan berusaha. Barang siapa meninggalkan sebab, padahal Allah telah memerintahkannya, maka ia telah menyalahi hikmah Allah dalam mengatur kehidupan makhluk-Nya.
Memahami hakikat takdir sebagaimana dijelaskan para ulama akan membuat kita menyadari bahwa takdir bukan alasan untuk berpangku tangan dan berhenti berusaha. Sebaliknya, keyakinan terhadap takdir seharusnya menumbuhkan ketenangan hati dan semangat untuk terus berbuat baik. Setiap usaha manusia tetap berada dalam kendali dan ilmu Allah, sehingga tidak ada satu pun yang sia-sia di sisi-Nya. Wallahu a’lam.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!