Media Sosial: Penggerak Penjualan Makanan Organik di Hari Pangan Sedunia

ED
Rabu, 16 Oktober 2024 | 12:58 WIB
Bagikan
Media Sosial: Penggerak Penjualan Makanan Organik di Hari Pangan Sedunia

Meskipun pertanian organik kini menjadi lebih efisien, produk organik masih lebih mahal dibandingkan produk konvensional, sehingga sulit diakses oleh masyarakat berpendapatan rendah.

Selain itu, gangguan rantai pasokan yang disebabkan oleh pandemi ini menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga, sehingga semakin memperburuk masalah ini. Tantangan lainnya adalah terbatasnya ketersediaan produk organik di daerah tertentu.

Meskipun AS dan Eropa memiliki pasar organik yang mapan, negara-negara berkembang masih menghadapi tantangan dalam hal produksi dan distribusi.

Kesenjangan ini menggarisbawahi perlunya kebijakan yang mendukung pertanian organik dan menjadikan produk organik lebih mudah diakses oleh khalayak yang lebih luas. Meskipun terdapat tantangan, masa depan konsumsi makanan organik tampak menjanjikan.

Ketika dunia terus bergulat dengan dampak perubahan iklim, terdapat peningkatan kebutuhan akan praktik pertanian berkelanjutan yang melindungi lingkungan sekaligus menjamin keamanan pangan.

Wawasan yang diberikan studi ini sangat berharga bagi pembuat kebijakan dan pasar, karena mereka berupaya mengembangkan strategi yang mempromosikan makanan organik dan mendukung SDGs. Solusi yang mungkin dilakukan untuk mengatasi tantangan produksi dan konsumsi pangan organik termasuk meningkatkan subsidi pemerintah bagi petani organik, meningkatkan efisiensi rantai pasokan, dan meluncurkan kampanye kesadaran masyarakat untuk mendidik konsumen tentang manfaat jangka panjang dari makanan organik.

Tentu saja, media sosial akan terus memainkan peran penting dalam membentuk perilaku konsumen, menjadikannya alat penting untuk mempromosikan praktik makan berkelanjutan.

  • Dr Jolly Masih adalah Asisten Profesor, Sekolah Manajemen, di Universitas BML Munjal, Gurugram. Penelitiannya difokuskan pada konsumsi pangan berkelanjutan dan perilaku konsumen.
  • Artikel ini didasarkan pada studi 'Makanan Organik Pasca-pandemi: Pola Makan Berkelanjutan yang dieksplorasi melalui analisis media sosial' yang diterbitkan dalam Jurnal Akademi Studi Pemasaran.
  • Untuk penelitian ini, Dr Masih berkolaborasi dengan Harvinder Singh dan Chahat Masih. Singh adalah peneliti di Leaders Institute, Brisbane, dan berfokus pada peran platform digital dalam membentuk tren konsumen. Chahat berafiliasi dengan University of Sydney, tempat ia mengeksplorasi titik temu antara media sosial, keberlanjutan, dan budaya konsumen.
  • Awalnya diterbitkan di bawah Creative Commons oleh 360info™.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.