Maggot Gedebage, Mesin Biologis Pengurang Sampah Bandung

ED
PN
Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:58 WIB
Bagikan
/

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis pemilahan menjadi kunci penting sebelum sampah masuk ke proses pengolahan berikutnya.

Namun, sampah organik yang akan menjadi pakan maggot tidak serta-merta langsung diberikan kepada larva. Ada tahapan persiapan yang harus dilakukan agar proses biologis berlangsung optimal.

Sampah terlebih dahulu difermentasi selama dua hingga empat hari. Tahapan ini dilakukan untuk mengurangi bakteri negatif sekaligus menekan kandungan zat yang berpotensi mengganggu proses maggotisasi.

“Jadi kita fermentasi dulu untuk menjaga, menghilangkan bakteri-bakteri negatif, khususnya zat kimia. Minimal dua hari sampai empat hari baru kita kasih ke maggot,” kata Rudi.

Setelah melalui proses tersebut, sampah organik baru diberikan kepada maggot. Larva kemudian memakan dan mengurai material organik tersebut sehingga volume sampah yang harus berakhir sebagai residu dapat ditekan.

Bagi TPSS Gedebage, maggot bukan sekadar komoditas yang dibudidayakan untuk kemudian dijual. Fungsi utamanya justru sebagai bagian dari sistem pengurangan sampah.

Karena itu, keberlanjutan siklus maggot menjadi sangat penting. Semakin konsisten pasokan sampah organik, terutama sisa makanan, semakin besar pula potensi kapasitas reduksi yang dapat dicapai.

Saat ini, TPSS Gedebage menargetkan kapasitas pengurangan sampah organik melalui maggotisasi dapat ditingkatkan hingga 10 ton per hari. Target tersebut sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku berupa sampah organik yang sesuai.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.