Maggot Gedebage, Mesin Biologis Pengurang Sampah Bandung
VISI.NEWS - Di tengah persoalan sampah yang terus menjadi tantangan perkotaan, Tempat Pengolahan Sampah Sementara (TPSS) Gedebage, Kota Bandung, mencoba menghadirkan pendekatan berbeda. Sampah tidak semata-mata dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, tetapi diolah sedekat mungkin dengan sumbernya.
Salah satu metode yang kini menjadi andalan adalah maggotisasi. Larva lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF) dimanfaatkan sebagai “mesin biologis” untuk mengurai sampah organik, terutama sisa makanan.
Setiap hari, TPSS Gedebage mampu mengolah sekitar 15 hingga 20 ton sampah. Dari jumlah tersebut, proses maggotisasi mampu mereduksi sekitar 5 hingga 8 ton sampah organik per hari.
Pengelola TPSS Gedebage, Rudi Rudiana, mengatakan sampah yang masuk ke fasilitas tersebut berasal dari berbagai sumber. Selain sampah domestik rumah tangga, terdapat pula sampah dari kegiatan komersial serta dukungan pasokan melalui program Gaslah.
Begitu tiba di TPSS, sampah tidak langsung ditumpuk atau dibuang. Material terlebih dahulu melewati proses pemilahan menggunakan mesin untuk memisahkan sampah berdasarkan karakteristik dan peluang pemanfaatannya.
“Yang pertama itu sampah organik pakan maggot. Kedua sampah organik kompos, yang ketiga high value atau rongsok, keempat low value, kelima bahan RDF, dan terakhir kompos,” ujar Rudi saat ditemui di TPSS Gedebage, Rabu (19/8/2026).
Dari proses pemilahan tersebut terlihat bahwa sebagian besar sampah yang datang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Sekitar 50 hingga 60 persen merupakan sampah organik yang dapat digunakan sebagai bahan pakan maggot.
Sekitar 20 persen lainnya merupakan bahan organik yang diarahkan untuk pengomposan. Sementara residu berada di kisaran 15 persen. Adapun material seperti rongsok, low value dan bahan untuk refuse-derived fuel (RDF) masing-masing berada di bawah lima persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis pemilahan menjadi kunci penting sebelum sampah masuk ke proses pengolahan berikutnya.
Namun, sampah organik yang akan menjadi pakan maggot tidak serta-merta langsung diberikan kepada larva. Ada tahapan persiapan yang harus dilakukan agar proses biologis berlangsung optimal.
Sampah terlebih dahulu difermentasi selama dua hingga empat hari. Tahapan ini dilakukan untuk mengurangi bakteri negatif sekaligus menekan kandungan zat yang berpotensi mengganggu proses maggotisasi.
“Jadi kita fermentasi dulu untuk menjaga, menghilangkan bakteri-bakteri negatif, khususnya zat kimia. Minimal dua hari sampai empat hari baru kita kasih ke maggot,” kata Rudi.
Setelah melalui proses tersebut, sampah organik baru diberikan kepada maggot. Larva kemudian memakan dan mengurai material organik tersebut sehingga volume sampah yang harus berakhir sebagai residu dapat ditekan.
Bagi TPSS Gedebage, maggot bukan sekadar komoditas yang dibudidayakan untuk kemudian dijual. Fungsi utamanya justru sebagai bagian dari sistem pengurangan sampah.
Karena itu, keberlanjutan siklus maggot menjadi sangat penting. Semakin konsisten pasokan sampah organik, terutama sisa makanan, semakin besar pula potensi kapasitas reduksi yang dapat dicapai.
Saat ini, TPSS Gedebage menargetkan kapasitas pengurangan sampah organik melalui maggotisasi dapat ditingkatkan hingga 10 ton per hari. Target tersebut sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku berupa sampah organik yang sesuai.
Rudi menyebut, kondisi di lapangan terkadang justru menghadapi persoalan kekurangan sampah organik untuk pakan maggot.
“Kalau sampahnya mendukung, kita bisa maksimal. Terkadang kita justru kekurangan sampah, khususnya sampah sisa makanan yang memang untuk maggotisasi,” ujarnya.
Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan pengolahan sampah tidak hanya ditentukan oleh teknologi. Rantai pasokan sampah, pemilahan sejak sumber, tenaga kerja dan konsistensi pengelolaan sama-sama menentukan.
Dari 176 Biopon hingga Menjadi Pupuk
Di kawasan maggotisasi TPSS Gedebage terdapat 176 biopon berukuran 2,5 meter x 2,5 meter. Sekitar 90 persen biopon digunakan untuk proses maggotisasi, sedangkan sebagian lainnya difungsikan sebagai tempat penyimpanan sementara pakan maggot.
Dengan fasilitas tersebut, proses pengolahan berlangsung secara berkelanjutan. Sampah organik yang telah dipersiapkan masuk ke dalam siklus pakan, kemudian dimanfaatkan maggot untuk mengurangi material organik.
Hasilnya tidak berhenti pada berkurangnya volume sampah.
Maggot yang dihasilkan juga memiliki nilai guna. TPSS Gedebage memanfaatkannya untuk mendukung pengembangan rumah-rumah maggot di tingkat kelurahan. Ketika produksinya berlebih, maggot dapat dibagikan atau dimanfaatkan oleh peternak di sekitar kawasan TPSS.
Dengan demikian, pengolahan sampah menciptakan rantai manfaat baru. Sampah organik menjadi pakan, maggot menjadi sumber yang dapat dimanfaatkan, sementara sisa prosesnya menghasilkan material lain yang berguna.
Material sisa dari proses maggotisasi atau yang dikenal sebagai kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk.
TPSS Gedebage bahkan telah menguji pemanfaatan kasgot melalui kolaborasi dengan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1974 di wilayah Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya.
Menurut Rudi, hasil uji tersebut memberikan gambaran positif. Pemanfaatan kasgot disebut berpotensi menekan biaya pupuk sekaligus menghasilkan panen yang lebih baik dibandingkan penggunaan pupuk kimia dalam pengujian tersebut.
“Alhamdulillah kemarin kita uji kolaborasi dengan alumni ITB 74. Hasilnya menakjubkan, bisa menghemat puluhan juta untuk biaya pupuk dan menghasilkan lebih banyak panen daripada pupuk kimia,” tuturnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pengolahan sampah organik dapat menghasilkan manfaat yang lebih luas daripada sekadar mengurangi timbulan sampah. Jika dikelola secara konsisten, residu dari proses tersebut berpotensi kembali masuk ke sektor pertanian sebagai bahan pendukung pemupukan.
TPSS Gedebage sendiri telah menjalankan aktivitas pengolahan sampah selama sekitar tiga hingga empat tahun. Dalam perjalanannya, pengelola melihat bahwa persoalan utama bukan hanya bagaimana mengolah sampah yang sudah terkumpul, tetapi juga bagaimana membangun sistem yang membuat sampah dapat selesai di wilayah asalnya.
Konsep tersebut kemudian mengarah pada gagasan pengolahan sampah secara desentralisasi.
Sampah Diolah Dekat dengan Sumbernya
Rudi menilai sistem desentralisasi dapat menjadi salah satu pendekatan penting dalam pengelolaan sampah Kota Bandung. Sampah tidak harus selalu dibawa dalam jarak jauh menuju satu fasilitas pengolahan.
Sebaliknya, fasilitas pengolahan dapat diperkuat di sejumlah wilayah sehingga sampah yang dihasilkan masyarakat dapat ditangani sedekat mungkin dengan sumbernya.
Ia mengusulkan penguatan fasilitas pengolahan di Bandung Timur, Bandung Selatan, Bandung Utara dan Bandung Barat.
“Desentralisasi itu ada TPS di Bandung Timur, Bandung Selatan, Bandung Utara, Bandung Barat. Jadi habis di wilayah masing-masing. Tidak ada lintas wilayah yang terlalu jauh,” ujarnya.
Konsep tersebut sekaligus dapat mengurangi ketergantungan pada sistem pengangkutan jarak jauh. Semakin dekat lokasi pengolahan dengan sumber sampah, semakin pendek pula rantai perjalanan sampah sebelum diproses.
Bagi Kota Bandung, pendekatan seperti ini menjadi penting karena persoalan sampah merupakan persoalan yang melibatkan banyak titik sekaligus. Sampah muncul dari rumah tangga, pasar, pusat perdagangan, kawasan usaha hingga berbagai aktivitas masyarakat lainnya.
Karena itu, penyelesaiannya tidak cukup hanya dengan menambah kapasitas pembuangan akhir. Sampah perlu dipilah, dikurangi dan diolah sejak dari sumber.
Pengalaman TPSS Gedebage menunjukkan bahwa sampah organik memiliki peluang besar untuk ditangani melalui pendekatan biologis. Dengan dukungan pemilahan, fermentasi, maggotisasi dan pemanfaatan kasgot, sebagian material yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat kembali masuk ke dalam rantai manfaat.
Maggot dalam konteks ini bukan sekadar larva yang memakan sampah. Ia menjadi bagian dari sebuah sistem pengelolaan yang mengubah cara pandang terhadap sampah organik.
Dari puluhan ton sampah yang masuk setiap hari, sebagian dapat diproses menjadi pakan maggot. Dari sana lahir maggot yang dapat dimanfaatkan kembali, sementara kasgot berpotensi digunakan sebagai pupuk.
Namun, keberhasilan model tersebut tetap bergantung pada satu hal mendasar: konsistensi.
Kontinuitas pasokan sampah organik, pemilahan yang benar sejak sumber, ketersediaan tenaga kerja dan pengelolaan yang disiplin menjadi fondasi agar proses tidak terputus.
Jika sistem tersebut dapat direplikasi di berbagai wilayah Kota Bandung, pengelolaan sampah berpeluang bergeser dari pola kumpul-angkut-buang menuju pola pilah-olah-manfaatkan.
Di Gedebage, perubahan itu sedang berlangsung. Sampah yang sebelumnya identik dengan masalah perlahan diposisikan sebagai bahan baku. Dan di antara tumpukan sisa makanan yang setiap hari datang, ribuan bahkan jutaan maggot bekerja dalam diam—mengurangi sampah, menghasilkan sumber daya, sekaligus membuka jalan bagi sistem pengelolaan sampah Bandung yang lebih dekat, terdesentralisasi dan berkelanjutan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!