Legenda Siti Samboja Hidup Kembali di Panggung Teater
Sementara itu, aspek musikalitas menghadirkan perpaduan menarik antara gamelan tradisional dengan sentuhan musik digital modern, terutama pada bagian pembukaan pertunjukan. Unsur artistik panggung pun memanfaatkan material lokal khas Pangandaran berupa pohon dahon atau nipah yang diolah menjadi dekorasi dan tata panggung bertingkat tiga level, menghadirkan nuansa lokal yang kuat sekaligus artistik.
Besarnya skala produksi terlihat dari keterlibatan ratusan seniman, mahasiswa, dan komunitas budaya setempat. Sanggar Agniya serta Padepokan Panglipur Pangandaran menjadi bagian penting dalam proses kreatif yang berbasis partisipasi masyarakat. Pertunjukan ini juga menjadi malam puncak penutupan KKN Reguler ISBI Bandung dan KKN Internasional BKSPTN Wilayah Barat ke-3 yang diikuti mahasiswa dari 32 perguruan tinggi negeri dan peserta internasional dari tujuh negara.
Antusiasme publik terhadap pementasan ini sangat tinggi. Selain dipadati ribuan penonton secara langsung, siaran langsung melalui kanal YouTube resmi ISBI Bandung juga berhasil menjangkau lebih dari 11 ribu tayangan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa karya seni berbasis tradisi lokal tetap memiliki daya tarik besar ketika dikemas secara kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Lebih jauh, Retno berharap Niskala Gudha Siti Samboja tidak berhenti sebagai pertunjukan insidental. Model Teater Total yang dikembangkan dalam karya ini berpotensi menjadi agenda budaya rutin yang mendukung pengembangan ekosistem edu-cultural tourism di Pangandaran. Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya menjaga nilai moral dan memori kolektif masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi seniman, pelaku budaya, dan masyarakat lokal.
Melalui pementasan ini, legenda Dewi Siti Samboja kembali menemukan ruang hidupnya di tengah masyarakat modern. Dari sebuah cerita rakyat yang diwariskan secara lisan, ia kini menjelma menjadi simbol kebangkitan budaya, kepemimpinan perempuan, sekaligus bukti bahwa tradisi dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar identitasnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!