Legenda Siti Samboja Hidup Kembali di Panggung Teater
Menurut Retno, proyek ini merupakan langkah strategis untuk mengonversi tradisi lisan ke dalam format seni pertunjukan kontemporer. Dengan memanfaatkan pendekatan interkultural dan metode alih wahana yang dikembangkan oleh pakar teater Patrice Pavis, karya tersebut berupaya menjembatani warisan budaya lokal dengan kebutuhan masyarakat masa kini yang hidup di era digital.
Tak hanya menghidupkan kembali cerita rakyat, pertunjukan ini juga mengusung misi revitalisasi kesenian Ronggeng Gunung yang belakangan mulai meredup akibat gempuran hiburan populer. Dalam proses kreatifnya, tim penggarap menerapkan empat tahapan utama, yakni rethinking, redefinition, reinterpretation, dan recreation. Melalui tahapan tersebut, kisah lama tidak sekadar dipentaskan ulang, melainkan diberikan perspektif baru yang lebih kontekstual.
Perubahan paling menonjol terlihat pada penafsiran terhadap tokoh Dewi Siti Samboja. Jika dalam cerita tradisional sosok tersebut lebih dikenal melalui kisah balas dendam atas kematian suaminya, Pangeran Anggalarang, maka dalam pertunjukan ini fokus cerita bergeser pada perjuangan kepemimpinan perempuan dalam menjaga kesejahteraan rakyat dan membangun peradaban.
Pesan tersebut semakin kuat karena tokoh Dewi Siti Samboja dalam penyamaran diperankan langsung oleh Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami. Kehadiran satu-satunya kepala daerah perempuan di Jawa Barat itu memberi makna simbolik yang mendalam tentang peran perempuan dalam kepemimpinan publik. Penonton tidak hanya menyaksikan sebuah pertunjukan seni, tetapi juga refleksi atas pentingnya kepemimpinan perempuan dalam pembangunan masyarakat.
Keistimewaan pertunjukan ini terletak pada konsep Teater Total yang menggabungkan berbagai disiplin seni dalam satu panggung. Unsur seni pertunjukan memadukan teater realis, babad Sandiwara Sunda, tari tradisional, serta seni bela diri pencak silat Pakidulan dan Bugis. Dari sisi pedalangan, pementasan menghadirkan kolaborasi tiga genre wayang sekaligus, yaitu Wayang Golek yang dibawakan dalang Indra Giri, Wayang Kulit Giri Harja IV oleh Batara Sena, serta Wayang Tavip yang merepresentasikan pendekatan kontemporer.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!