Legenda Siti Samboja Hidup Kembali di Panggung Teater
VISI.NEWS – Seminar Nasional bertajuk “Interkulturalitas: Masih Mempesona atau Sudah Ditinggalkan?” yang digelar di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Rabu (16/9/2026), menghadirkan optimisme baru bagi masa depan seni teater Indonesia. Di tengah derasnya arus industri hiburan modern yang saling berebut perhatian publik, seni teater dinilai tetap memiliki daya hidup kuat ketika mampu berkolaborasi dengan berbagai cabang seni lainnya dalam satu kesatuan pertunjukan yang utuh.
Salah satu gagasan yang mencuri perhatian dalam forum akademik tersebut datang dari Dr. Retno Dwimarwati, seniman teater, akademisi, sekaligus mantan Rektor ISBI Bandung. Dalam sesi pemaparannya, Retno memperkenalkan karya bertajuk “Niskala Gudha Siti Samboja”, sebuah adaptasi kreatif dari cerita rakyat Pangandaran yang dikemas menjadi pertunjukan Teater Total dengan pendekatan interkultural dan kolaboratif.
Karya tersebut mengangkat kembali legenda Dewi Siti Samboja dan asal-usul kesenian Ronggeng Gunung yang selama ini menjadi bagian penting dari memori budaya masyarakat Pangandaran. Melalui sentuhan artistik yang lebih segar dan modern, kisah tradisional itu tidak hanya dihidupkan kembali, tetapi juga ditafsirkan ulang agar lebih relevan dengan tantangan zaman dan mudah diterima generasi muda.
Saat dihubungi seusai seminar, Retno menjelaskan bahwa sosok Dewi Siti Samboja memiliki nilai simbolik yang sangat kuat dalam budaya Sunda. Menurutnya, perempuan dalam tradisi Sunda selalu ditempatkan pada posisi terhormat karena memiliki peran penting dalam menjaga kehidupan masyarakat.
“Masarakat Sunda sangat menghormati perempuan. Dewi Siti Samboja adalah simbol perjuangan perempuan yang bertahan hidup di pengungsian sekaligus menyusun strategi demi rakyatnya,” ujar Retno.
Pemikiran tersebut kemudian diwujudkan melalui pertunjukan Niskala Gudha Siti Samboja yang dipentaskan di Alun-Alun Parigi, Pangandaran. Pementasan megah itu berhasil memukau ribuan penonton yang memadati lokasi acara. Legenda lokal yang sebelumnya hidup dalam tradisi tutur masyarakat kini menjelma menjadi tontonan teatrikal berskala besar yang memadukan kekuatan narasi, musik, tari, seni rupa, hingga teknologi pertunjukan modern.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!