Kospi Anjlok 8,8 Persen, Saham Chip Tertekan
Ilustrasi./visi.news/pasardana.id.
VISI.NEWS | JAKARTA - Bursa saham Korea Selatan mengalami tekanan besar pada awal pekan setelah aksi jual masif menghantam saham saham teknologi, khususnya sektor semikonduktor.
Kondisi ini mendorong indeks Kospi merosot hingga 8,8 persen pada perdagangan Senin dan memperdalam koreksi pasar dari puncak tertingginya dalam beberapa waktu terakhir.
Penurunan tajam tersebut terutama dipicu oleh melemahnya saham perusahaan chip yang selama ini menjadi motor utama reli pasar. Samsung Electronics Co. tercatat anjlok hingga 11 persen, sementara SK Hynix Inc. turun sekitar 10 persen. Pelemahan dua emiten besar itu memberikan tekanan signifikan terhadap keseluruhan indeks.
Besarnya gejolak pasar bahkan memicu penghentian sementara perdagangan melalui mekanisme circuit breaker. Langkah ini diambil untuk meredam kepanikan dan memberi waktu bagi pelaku pasar menyesuaikan posisi investasi mereka di tengah volatilitas yang meningkat.
Perkembangan tersebut menunjukkan adanya perubahan sentimen investor terhadap saham saham yang sebelumnya diuntungkan oleh tren kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Setelah mencatat kenaikan besar sepanjang tahun, sebagian investor mulai melakukan aksi ambil untung di sektor teknologi, terutama pada perusahaan yang memiliki eksposur tinggi terhadap industri AI dan semikonduktor.
Selain faktor sektoral, tekanan juga datang dari kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian. Kekhawatiran terhadap inflasi, tingginya harga energi, serta meningkatnya tensi geopolitik menjadi kombinasi yang mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Dampaknya terlihat dari arus modal asing yang keluar dalam jumlah besar. Investor asing tercatat menjual saham Kospi secara bersih lebih dari 10 miliar dolar Amerika Serikat hanya dalam satu pekan terakhir. Arus keluar dana tersebut semakin membebani pasar saham sekaligus menekan nilai tukar won Korea Selatan.
Mata uang won bahkan menyentuh level terlemah terhadap dolar Amerika Serikat sejak Maret 2009. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi juga merembet ke pasar valuta asing.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!