KHUTBAH JUMAT | Tahun Baru Islam Momentum Hijrah Hakiki
Ini memberikan makna bahwa tidak ada hijrah dari Mekah karena dia telah menjadi negeri Islam. Hijrah Rasul dari Mekah ke Madinah yang terjadi pada tahun 622 M, bukanlah sekadar peristiwa dalam sejarah Islam. Tetapi banyak petuah dan pelajaran berharga yang terpenting di antaranya adalah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ketika keluar dari Mekah berhijrah menuju Madinah tidaklah dalam keadaan membenci penduduk Mekah, justru cinta.
Oleh karena itu ketika keluar meninggalkan Mekah Nabi bersabda:
وَاللهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللهِ إِلَى اللهِ، وَلَوْلَا أَنِّيْ أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ (رواه الترميذي والنسائي عن عبد الله بن عدي بن حمراء رضي الله عنه)
Artinya: Demi Allah, sungguh kamu (Mekah) adalah sebaik-baik bumi Allah, dan bumi Allah yang paling dicintai Allah. Seandainya aku tidak dikeluarkan darimu (Mekah), maka tiadalah aku keluar --darimu. (HR al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibn Mâjah dll, dari ‘Abdullâh bin ‘Addî bin Hamrâ’ Radliyallahu Anhum).
Ini menunjukkan betapa kecintaannya kepada Mekah dan penduduknya, sebagaimana maqalah populer menyatakan hubbul wathan minal iman, cinta Tanah Air adalah ekspresi kesempurnaan iman.
Dan satu hal yang penting dalam hijrah adalah bermakna luas, sebagaimana disebutkan dalam hadis:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ (رواه البخاري)
Artinya: Orang yang berhijrah itu adalah orang yang berhijrah, meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah. (HR al-Bukhârî).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!