KHUTBAH JUMAT | Memulai Kebaikan dari Diri Sendiri
Ilustrasi./visi.news/ist.
Artinya: “Tanda orang munafik ada tiga macam: bila berkata, ia berdusta, bila berjanji, ia menyalahi janjinya, dan bila dipercaya, ia berkhianat.” (Riwayat al-Bukhārī dan Muslim)
Namun, memulai kebaikan dari diri sendiri bukan berarti seseorang harus menunggu menjadi sempurna sebelum menyampaikan kebenaran kepada orang lain. Kesempurnaan bukanlah syarat untuk berbagi nilai-nilai baik. Setiap individu tetap memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebaikan dan kebenaran, meskipun dirinya masih dalam proses belajar dan memperbaiki diri.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS at-Tagābun: 16)
Penjelasan ini mengingatkan kita bahwa keteladanan jauh lebih kuat daripada sekadar rangkaian kata-kata. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali lebih mudah menunjuk kesalahan orang lain ketika masalah muncul, daripada bercermin dan melihat ke dalam diri sendiri.
Padahal, langkah awal menuju perubahan yang sejati justru dimulai dari muhasabah atau introspeksi diri yang jujur. Namun, tidak jarang kita justru sibuk mencari kambing hitam, seolah-olah kesalahan selalu berada di luar diri kita, bukan pada sikap dan tindakan yang perlu diperbaiki.
Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa perubahan yang nyata selalu berawal dari keberanian untuk memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu, sebelum menuntut orang lain untuk berubah.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!