KHUTBAH JUMAT | Lima Unsur Penyeimbang Hidup
Dari hati lahir kasih sayang, empati, dan ketulusan, tapi juga bisa muncul kecenderungan negatif seperti iri atau sombong. Kondisi hati sangat memengaruhi cara kita merespons kehidupan. Hati yang terjaga membuat kita lebih mudah merasakan ketenangan, keikhlasan, dan kebijaksanaan.
Sebaliknya, hati yang dipenuhi sifat negatif dapat membentuk sikap dan perilaku yang kurang baik. Hati adalah kompas batin manusia. Jadi semakin hati manusia bersih dan terlatih, semakin bijak pula langkah yang kita ambil dalam hidup. Rasulullah mengingatkan dalam sabdanya:
أَلاَ ÙˆÙŽØ¥ÙÙ†ÙŽÙ‘ ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ø¬ÙŽØ³ÙŽØ¯Ù Ù…ÙØ¶Ù’غَةً، Ø¥ÙØ°ÙŽØ§ صَلَØÙŽØªÙ’ صَلَØÙŽ Ø§Ù„Ù’Ø¬ÙŽØ³ÙŽØ¯Ù ÙƒÙÙ„ÙÙ‘Ù‡ÙØŒ ÙˆÙŽØ¥ÙØ°ÙŽØ§ Ùَسَدَتْ Ùَسَدَ الْجَسَد٠كÙÙ„ÙÙ‘Ù‡ÙØŒ أَلاَ ÙˆÙŽÙ‡ÙÙŠÙŽ الْقَلْبÙ. رواه البخاري ومسلم.
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka baiklah seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging tersebut buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.†(HR Bukhari dan Muslim)
Kelima adalah ruh atau sukmo. Ruh merupakan unsur terdalam dalam diri kita yang bersifat ilahiah dan menjadi sumber kehidupan. Ruh tidak bekerja dalam bentuk emosi seperti hati, melainkan menjadi penghubung antara kita dengan Allah swt. Jika hati berkaitan dengan rasa dan dinamika batin sehari-hari, maka ruh berkaitan dengan kesadaran spiritual yang lebih dalam, seperti makna kehadiran, tujuan hidup, dan hubungan dengan Allah.
Hati dan ruh memiliki peran yang berbeda. Hati mengelola rasa dan kecenderungan batin, sedangkan ruh menjadi sumber kehidupan sekaligus arah spiritual yang membimbing manusia menuju makna yang lebih tinggi. Dari kelima unsur ini, kita belajar bahwa hidup harus seimbang.
Jasad dijaga kesehatannya, nafsu dikendalikan arahnya, akal dipandu oleh agama, hati dibersihkan dari penyakit dan ruh didekatkan kepada Allah. Jika satu saja rusak, maka yang lain akan terganggu. Bagi yang hanya fokus pada jasad, hidupnya akan bersifat duniawi. Yang mengikuti nafsu, hidupnya penuh dosa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!