KHUTBAH JUMAT | Lima Unsur Penyeimbang Hidup
Dan yang tertinggi adalah nafsu yang tenang (muthmainnah), yang sudah selaras dengan kebaikan dan ketenangan hati. Tugas kita adalah menaikkan derajat nafsu itu. Dari yang liar menjadi terkendali. Dari yang serakah menjadi qana’ah. Dari yang mengikuti dunia menjadi menuju akhirat. Allah berfirman dalam surat al-Fajr ayat 27-30:
يَا أَيَّتÙهَا النَّÙÙ’Ø³Ù Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØ·Ù’مَئÙنَّة٠. Ø§Ø±Ù’Ø¬ÙØ¹ÙÙŠ Ø¥Ùلَىٰ رَبÙّك٠رَاضÙيَةً مَرْضÙيَّةً . ÙَادْخÙÙ„ÙÙŠ ÙÙÙŠ Ø¹ÙØ¨ÙŽØ§Ø¯ÙÙŠ . وَادْخÙÙ„ÙÙŠ جَنَّتÙÙŠ
Artinya: "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama´ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku," (QS. Al-Fajr 27 - 30).
Ketiga adalah akal atau cipto. Akal berfungsi sebagai alat untuk memahami, menimbang, dan mengambil keputusan. Akal yang digunakan secara baik akan membantu seseorang dalam membedakan yang tepat dan yang keliru, serta mendorong sikap terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Al-Qur’an berulang kali mendorong manusia untuk menggunakan akal. Hal ini tampak dalam ungkapan afalÄ ta‘qilÅ«n (apakah kamu tidak berpikir?) dan ulul albab (orang-orang yang berakal).
Pesan ini menegaskan betapa pentingnya berpikir dan merenung. Kita diajak untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah, memahami makna di balik setiap peristiwa, serta menggunakan akal untuk membedakan kebenaran dan merencanakan masa depan dengan bijak Dalam Al-Qur'an, surat Ali Imran ayat 190, Allah berfirman;
اÙÙ†ÙŽÙ‘ ÙÙيْ خَلْق٠السَّمٰوٰت٠وَالْاَرْض٠وَاخْتÙلَاÙ٠الَّيْل٠وَالنَّهَار٠لَاٰيٰت٠لÙّاÙولÙÙ‰ الْاَلْبَابÙÛ™
Artinya; "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal".
Keempat adalah hati atau roso, pusat rasa dan kesadaran batin yang mengatur emosi, kepekaan, dan nilai-nilai moral.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!