KHUTBAH JUMAT | Kesalehan Sosial dari Shalat
مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ تَزِدْهُ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا
Artinya: “Barang siapa yang shalatnya masih belum dapat mencegah dirinya dari mengerjakan perbuatan keji dan munkar, maka tiada lain ia makin bertambah jauh dari Allah.”
Lebih jauh, shalat yang berangkat dari spirit Isra Mi’raj mendorong lahirnya kesalehan sosial. Kesalehan ini tampak dalam kepekaan terhadap penderitaan orang lain, semangat menegakkan keadilan, serta keberanian menolak kemungkaran.
Semakin baik shalat kita, maka kita tidak akan mudah melakukan tindakan-tindakan negative seperti korupsi, menindas sesama, atau merusak tatanan sosial. Hal ini karena shalat senantiasa mengingatkan bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Rasulullah juga mengingatkan dalam haditsnya:
أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ، فَإنْ صَلُحَتْ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ، وَإنْ فَسَدَتْ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
Artinya: “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi.” (HR. Tirmidzi).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Peringatan Isra Mi’raj hendaknya tidak berhenti pada seremonial dan perayaan simbolik semata. Momentum ini harus menjadi momentum memperbaiki kualitas shalat, baik secara lahiriah maupun batiniah, sehingga benar-benar melahirkan kemaslahatan sosial. Kita harus menjadikan shalat sebagai sumber nilai dalam kehidupan sehari-hari seperti jujur dalam bekerja, adil dalam memimpin, santun dalam berinteraksi, dan peduli terhadap sesama.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!