KHUTBAH JUMAT | Kesalehan Sosial dari Shalat
Allah berfirman: اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Artinya: ”Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-'Ankabut: 45)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di tengah tantangan kehidupan modern yang diwarnai individualisme, konflik sosial, dan krisis moral saat ini, peringatan Isra Mi’raj harus menjadi momentum refleksi bersama. Kita diajak untuk meninjau kembali kualitas shalat yang telah kita jalankan selama ini. Kita perlu bertanya pada diri kita sendiri, apakah shalat kita telah mampu membentuk pribadi yang jujur, adil, dan peduli terhadap sesama? Ataukah masih sebatas rutinitas dan gerakan-gerakan semata tanpa ada pengaruh dan dampak sosial?.
Di sinilah pentingnya memahami keterkaitan antara momentum Isra Mi’raj, shalat, dan kemaslahatan sosial secara utuh dan komprehensif. Isra Mi’raj membawa pesan bahwa shalat adalah ibadah yang menghubungkan dua dimensi yakni dimensi langit dan bumi. Shalat merupakan media komunikasi langsung secara vertikal antara kita dengan Allah SWT yang kemudian diwujudkan dengan komunikasi harmonis secara horizontal dengan sesama manusia.
Kemaslahatan sosial lahir ketika nilai-nilai shalat diinternalisasi dalam jiwa kita secara baik. Dalam shalat, kita diajarkan nilai-nilai sikap disiplin waktu, kesetaraan derajat, dan kepatuhan pada aturan. Ketika nilai-nilai ini dibawa ke ruang sosial, maka akan tumbuh budaya saling menghormati, keadilan, dan kepedulian terhadap kelompok yang lemah. Shalat berjamaah, misalnya, bukan hanya simbol persatuan, tetapi juga latihan konkret untuk membangun kebersamaan dan tanggung jawab sosial.
Jangan sampai shalat yang kita lakukan hanya sebatas gerakan semata tanpa ada keterikatan hati dengan Sang Pencipta dan tidak berdampak sosial sehingga malah akan menjauhkan kita dari Allah ta'ala. Terdapat sebuah riwayat, yang meskipun dinilai dha'if oleh sebagian ulama, namun maknanya mengingatkan kita akan pentingnya merefleksikan shalat-shalat yang telah kita laksanakan seumur hidup kita, dalam Musnad Asy-Syihab disebutkan:
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!