Kenapa Kalimantan Sering Dilanda Karhutla Parah? Ini Kata Peneliti

Desi Rossilawati
Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:52 WIB
Bagikan
Kenapa Kalimantan Sering Dilanda Karhutla Parah? Ini Kata Peneliti

./visi.news/reuters.

Kebakaran pada 1982-1983 tersebut tercatat menghanguskan sekitar 3,2 juta hektare lahan di Kalimantan Timur. World Resources Institute (WRI) melaporkan kerugian ekonomi akibat kebakaran tersebut mencapai 9 miliar dolar AS.

Karhutla besar kembali terjadi pada 1997-1998, 2006, 2015, dan 2019. Peristiwa tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tetapi juga berdampak terhadap lingkungan, kesehatan, pemanasan global, hingga menyebabkan korban jiwa.

Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Utama

Studi yang disusun Annisa Musrifatun Nur'Aini dan Athaya Putri Tatia Ananta dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2025 menyebut karhutla sebagai bencana ekologis yang berulang di Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan.

Dalam kajian tersebut, sebagian besar karhutla di Indonesia dipicu aktivitas manusia atau antropogenik.

Salah satu praktik yang menjadi sorotan adalah pembukaan lahan dengan cara membakar. Metode tersebut masih digunakan karena dinilai lebih murah dan cepat, baik oleh korporasi maupun petani skala kecil.

Risiko kebakaran semakin meningkat ketika memasuki musim kemarau. Vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan.

Kondisi tersebut juga semakin rentan pada lahan gambut yang mengalami pengeringan akibat kanalisasi. Ketika gambut kehilangan kelembapannya, api dapat muncul dan bertahan di bawah permukaan tanah atau subsurface fire.

Kebakaran jenis ini sulit dideteksi dan dipadamkan karena dapat bertahan dalam waktu lama di bawah permukaan.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.