Kenapa Kalimantan Sering Dilanda Karhutla Parah? Ini Kata Peneliti
./visi.news/reuters.
VISI.NEWS - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Asap pekat terlihat menyelimuti sejumlah kawasan Borneo, sementara titik kebakaran terpantau di berbagai wilayah.
Berdasarkan pantauan satelit Google, status 'Kebakaran Parah' terdeteksi di sejumlah titik Kalimantan, dengan konsentrasi titik kebakaran berada di Kalimantan Selatan. Wilayah yang terbakar diperkirakan mencapai 572 kilometer persegi berdasarkan pembaruan pantauan satelit hingga Kamis (20/8/2026).
Kapusdatin dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, penanganan karhutla masih dilakukan oleh satuan tugas melalui operasi darat dan udara.
"Sampai saat ini satgas penanganan karhutla, baik udara dan darat, terus menerus memberikan layanan terbaik untuk memadamkan api di beberapa provinsi terdampak karhutla," ucapnya, Kamis (20/8/2026).
Karhutla Berulang di Kalimantan
Karhutla dengan skala besar bukan fenomena baru di Indonesia. Wilayah Kalimantan dan Sumatra tercatat beberapa kali mengalami kebakaran hutan dan lahan parah.
Dikutip dari Forum Geosaintis Muda Indonesia (FGMI), salah satu kebakaran hutan terbesar terjadi di Kalimantan Timur pada 1982.
Saat itu, fenomena El Nino menyebabkan kekeringan parah pada Juni 1982 hingga Mei 1983. Kondisi tersebut diperparah aktivitas ladang berpindah dengan metode pembakaran lahan untuk membuka area perkebunan tanaman semusim seperti padi, ubi, dan jagung.
Aktivitas pembalakan liar juga meninggalkan akumulasi limbah dan vegetasi yang mudah terbakar.
Kebakaran pada 1982-1983 tersebut tercatat menghanguskan sekitar 3,2 juta hektare lahan di Kalimantan Timur. World Resources Institute (WRI) melaporkan kerugian ekonomi akibat kebakaran tersebut mencapai 9 miliar dolar AS.
Karhutla besar kembali terjadi pada 1997-1998, 2006, 2015, dan 2019. Peristiwa tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi, tetapi juga berdampak terhadap lingkungan, kesehatan, pemanasan global, hingga menyebabkan korban jiwa.
Aktivitas Manusia Jadi Pemicu Utama
Studi yang disusun Annisa Musrifatun Nur'Aini dan Athaya Putri Tatia Ananta dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2025 menyebut karhutla sebagai bencana ekologis yang berulang di Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan.
Dalam kajian tersebut, sebagian besar karhutla di Indonesia dipicu aktivitas manusia atau antropogenik.
Salah satu praktik yang menjadi sorotan adalah pembukaan lahan dengan cara membakar. Metode tersebut masih digunakan karena dinilai lebih murah dan cepat, baik oleh korporasi maupun petani skala kecil.
Risiko kebakaran semakin meningkat ketika memasuki musim kemarau. Vegetasi yang mengering membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan.
Kondisi tersebut juga semakin rentan pada lahan gambut yang mengalami pengeringan akibat kanalisasi. Ketika gambut kehilangan kelembapannya, api dapat muncul dan bertahan di bawah permukaan tanah atau subsurface fire.
Kebakaran jenis ini sulit dideteksi dan dipadamkan karena dapat bertahan dalam waktu lama di bawah permukaan.
Deforestasi dan El Nino Perparah Kebakaran
Deforestasi, pembalakan liar, serta konversi lahan dalam skala besar turut meningkatkan kerentanan kawasan terhadap kebakaran.
Hilangnya tutupan vegetasi dapat mengganggu kondisi mikroklimat dan membuat kawasan menjadi lebih kering sehingga lebih mudah terbakar.
Selain faktor aktivitas manusia, kondisi iklim juga berperan dalam meningkatkan tingkat keparahan karhutla.
Fenomena El Nino dapat menyebabkan musim hujan datang lebih lambat dan memperpanjang periode kemarau. Meski bukan menjadi pemicu utama, kondisi tersebut dapat mempercepat penyebaran titik api dan meningkatkan tingkat keparahan kebakaran.
Dampak Karhutla terhadap Lingkungan, Kesehatan dan Ekonomi
Karhutla memberikan dampak luas terhadap lingkungan. Kebakaran dapat mengancam keanekaragaman hayati, merusak ekosistem, serta meningkatkan pelepasan emisi karbon ke atmosfer yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Dari sisi kesehatan, paparan kabut asap akibat karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi tersebut juga berisiko lebih besar bagi kelompok masyarakat yang rentan.
Karhutla juga berdampak terhadap perekonomian. Kebakaran dapat mengganggu sektor pertanian dan kehutanan, menghambat mobilitas serta transportasi, dan mengganggu aktivitas perdagangan regional.
Dampak karhutla bahkan dapat meluas hingga negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei. Kondisi tersebut membuat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menjadi persoalan lingkungan lintas batas.
Pencegahan Tak Cukup dengan Pemadaman
Studi peneliti UGM menilai pengendalian karhutla membutuhkan pendekatan jangka panjang. Upaya penanganan tidak hanya dilakukan melalui pemadaman api, tetapi juga melalui perbaikan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar hutan.
"Pengendalian karhutla memerlukan pendekatan jangka panjang yang tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pada perbaikan aspek sosial-ekonomi masyarakat sekitar hutan. Program perhutanan sosial, peningkatan kesejahteraan petani, penyediaan alternatif pembukaan lahan tanpa bakar, serta penguatan tata kelola lahan menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan berkelanjutan," tulis studi dari peneliti UGM.
Para peneliti juga menekankan pentingnya menjadikan pengalaman dari berbagai peristiwa karhutla sebelumnya sebagai bagian dari perencanaan pembangunan dan pengelolaan hutan.
"Pembelajaran dari sejarah karhutla harus terus diintegrasikan dalam perencanaan pembangunan agar pengelolaan hutan dan lahan di Indonesia dapat berjalan secara berkelanjutan dan bebas dari bencana kabut asap," lanjutnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!