Keikhlasan Luar Biasa dalam Berkarya Sunnatullah

ED
Senin, 20 Desember 2021 | 04:51 WIB
Bagikan
Keikhlasan Luar Biasa dalam Berkarya Sunnatullah

VISI.NEWS | BANDUNG - Membahas tentang keikhlasan, artinya membahas perihal cara hati dalam menepis dan menolak semua keinginan agar dipuji, dianggap hebat, dan agar mendapatkan posisi khusus dari orang banyak. Dalam ini, hati perlu pembiasaan secara terus-menerus, diuji dengan berbagai rintangan agar tidak menoleh pada manusia. Sebab, tanpa pembiasaan, memiliki hati yang benar-benar ikhlas akan sulit tercapai.

Sebelum manusia menjadikan ikhlas sebagai capaian dalam beramal untuk mendapatkan ridha dari Allah swt, terlebih dahulu ia perlu mengerti perihal pentingnya ikhlas dalam beramal.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman,

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

Artinya: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)” (QS Al-Bayyinah : 5).

Pada ayat di atas, Allah memposisikan ikhlas sebagai poin paling penting dalam beribadah, bahkan lebih didahulukan daripada ketaatan. Dengan kata lain, sebelum melakukan ibadah atau amal saleh lainnya, ikhlas seharusnya lebih diperhatikan sebelum melakukan suatu pekerjaan.

Imam Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik, atau yang juga dikenal dengan sebutan Imam Qusyairi (wafat 465 H) dalam kitab tafsirnya memposisikan ikhlas di tempat paling atas. Sebab tanpa keikhlasan, semua amal ibadah atau amal saleh tidak bisa diterima oleh Allah, dan hanya menjadi pekerjaan yang tidak memiliki bekas apa pun pada orang yang melakukannya.

Lantas, apakah maksud dari ikhlas? Masih dikutip dari pendapat Imam Qusyairi, ikhlas adalah memposisikan Allah sebagai satu-satunya tujuan tanpa memperhatikan yang lain. Atau, bisa juga diartikan tidak memposisikan selain Allah dalam setiap gerak gerik dan diamnya. Ia murni melakukan suatu amal kebaikan hanya untuk Allah, meski kenyataannya untuk kebaikan bersama, atau bahkan untuk orang lain. Dengannya, semua amal ibadah akan suci dari kekurangan, sehingga dengan gampang diterima oleh-Nya. (Imam Qusyairi, Lathaiful Isyarat ala Tafsiril Qusyairi, , juz VIII, h. 95).

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.