Keikhlasan Luar Biasa dalam Berkarya Sunnatullah
Di sela-sela upaya dan perjuangannya untuk mengumpulkan hadits, banyak orang-orang saat itu yang mengomentari dan bahkan hendak menyainginya. Hal itu dengan tujuan agar mendapat pujian dan tepuk tangan dari orang lain. Berbeda dengan Imam Malik, beliau murni ikhlas untuk mengumpulkan hadits dalam satu kitab, tanpa sedikit pun terbesit dalam benaknya untuk mendapatkan pujian dari orang lain.
Kisah ini diabadikan oleh Imam Abdurrahman bin Abu Bakar Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H) dalam salah satu kitabnya, bahwa ikhlas memiliki posisi khusus yang tidak akan pernah terkalahkan oleh yang lainnya. Imam Suyuthi mengatakan,
وَقَدْ صَنَّفَ اِبْنُ أَبِي ذَئْبٍ بِالْمَدِيْنَةِ مُوَطَّأً أَكْبَرَ مِنْ مُوَطَّأِ مَالِكٍ حَتَّى قِيْلَ لِمَالِكٍ مَا الْفَائِدَةُ فِي تَصْنِيْفِكَ؟ قَالَ مَا كَانَ لِلهِ بَقِىَ
Artinya, “Sungguh Ibnu Abi Dza’bi di kota Madinah telah menyusun kitab Muwattha' yang lebih besar dari kitab Muwattha’-nya Imam Malik, hingga ditanyakan kepadanya, ‘Apa faedah dalam karyamu (Muwattha’) ini?’ Imam Malik menjawab, ‘Apa (kitab) yang karena Allah akan abadi’.” (Imam Suyuthi, Tadzribur Rawi fi Syarhi Taqribin Nawawi, , juz I, halaman 89).
Kisah ini mengingatkan kita betapa pentingnya ikhlas dalam beramal, bahkan kitab yang membahas dengan detail dan lebih luas akan kalah dengan kitab yang lebih sedikit dan lebih ringkas disebabkan tidak adanya keikhlasan. Oleh karenanya, ikhlas menempati posisi paling penting dalam sebuah ibadah maupun amal saleh lainnya.
Selain kisah di atas, ada kisah lain yang memposisikan ikhlas di ruang paling inti. Kisah ini menjadi salah satu teladan bagi manusia, bahwa keabadian dalam beramal atau berkarya khususnya tergantung bagaimana memposisikan ikhlas. Jika Allah yang menjadi pokok paling inti dalam amalnya, maka upaya dan jerih payahnya akan berkelanjutan bahkan sampai hari kiamat tidak akan terputus.
Syekh Shanhaji dan Ikhlasnya dalam Berkarya
Siapa yang tidak kenal dengan kitab Matan al-Ajurumiah atau biasa cukup disebut Jurumiyah? Salah satu kitab nahwu yang sangat populer dalam dunia pendidikan, khususnya pesantren. Kitab sederhana dan ringkas ini menjadi pelajaran pokok di hampir semua pondok pesantren. Penjelasannya tidak terlalu luas dan lebar, akan tetapi manfaat dan berkah di dalamnya sangat banyak. Bahkan, orang-orang yang hendak bisa baca kitab kuning, terlebih dahulu mempelajari kitab ini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!