Keikhlasan Luar Biasa dalam Berkarya Sunnatullah
Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa semua amal kebaikan tanpa keikhlasan tidak akan sempurna dan tidak memiliki nilai khusus atau bahkan tidak akan memiliki perkembangan. Begitu juga dengan adanya keikhlasan, semua amal kebaikan akan berlangsung terus-menerus dan berkelanjutan.
Untuk mengetahui hal ini, ada banyak tokoh bahkan para ulama yang karyanya hilang ditelan masa bahkan tidak dikaji dan cenderung tidak dihiraukan, meskipun karya-karya tersebut melebih karya yang lain. Namun sebagaimana penjelasan awal, tanpa kehikhlasan semua amal kebaikan tidak memiliki nilai dan tidak akan berkembang.
Kitab Muwattha’ Imam Malik
Kisah ini berawal pada masa Imam Malik bin Anas, tepatnya ketika beliau berupaya untuk mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah dalam satu kitab yang kemudian menjadi kitab Muwattha’.
Secara garis besar, upaya pengumpulan hadits bermula sejak masa Rasulullah dan masa sahabat. Hanya saja, pada masa itu belum ditemukan banyak ulama yang berhasil mengumpulkan dalam satu kitab secara khusus. Sebab, mereka lebih fokus pada pengembangan Islam dan upaya untuk mengislamkan kembali orang-orang yang keluar dari Islam (murtad) pasca wafatnya Rasulullah. Oleh karenanya, kitab khusus yang berisi hadits Rasulullah saat itu belum ada, meski ada hanya sebagian yang lebih sedikit saja.
Pada masa tabiin, Imam Malik terinspirasi untuk menuliskan hadits-hadits Rasulullah dalam satu kitab secara khusus, tepatnya ketika Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur bertemu dengannya ada musim haji. Ia mengaji perihal hadits Rasulullah kepada Imam Malik setelah melakukan ibadah haji. Melihat penjelasan yang sangat luas dan hafalannya yang sangat kuat, Khalifah Abu Ja’far memohon kepadanya untuk menuliskan kitab khusus yang hanya berisi hadits-hadits Rasulullah.
Kendati permohonan tersebut datang dari seorang khalifah, Imam Malik tidak langsung mengiyakan permintaannya. Sebab menurutnya, setiap orang memiliki metode dan cara tersendiri untuk mengetahui hadits Rasulullah, sehingga tidak layak jika hanya membatasi hadits sebatas yang ada dalam diri Imam Malik. Akan tetapi, pada akhirnya Imam Malik mencoba mengkodifikasi hadits-hadits Rasulullah menjadi satu sembari mencari hadits-hadits lain yang belum beliau ketahui.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!